Diterbitkan:
Minggu, 13-Okt-2013, 10:04 WIB

Dilihat:
723 kali

Antara Licik dan Mengabdi pada Negara

foto gambar pembuka artikel Antara Licik dan Mengabdi pada Negara

"Pengabdian pada negara itu bullshit. Omong kosong!"

 

Aku tak tahu apa yang melatarbelakanginya berkata demikian. Aku pun hanya bisa menerka-nerka.

 

Mungkin dia tak pernah sekalipun diperlakukan adil oleh negara? Mungkin dia sudah memeras keringat dan membanting tulang berkali-kali atas nama negara namun ia tak mendapat balasan yang setimpal untuk perbuatannya itu.

 

"Kamu jangan jadi orang bodoh supaya tidak dimanfaatkan!"

 

Ada yang bilang seperti itu padaku. Katanya menjadi pintar baik secara akademis dan keahlian tanpa diimbangi dengan otak yang "licik" itu tak berarti.

 

Ibarat buah yang ranum. Buah manis yang siap dipetik dan disantap. Yang menyantap kamu adalah orang yang memanfaatkanmu. Tentu untuk melampiaskan nafsu perutnya.

 

Maka dari itu aku jadi yakin, banyak orang yang menjadi "licik" agar tidak bisa seenaknya dimanfaatkan. Mungkin "licik" bukan kata yang tepat. Mungkin banyak akal lebih tepat, seperti kancil cerdik yang mencuri timun dari Pak Tani. Mungkin licik erat kaitannya dengan politik.

 

"Buat apa aku melakukan sesuatu kalau tanpa imbalan? Kalaupun ada imbalannya ya harus sesuai!"

 

Mungkin karena itu pengabdian pada negara dianggap omong kosong. Karena pengabdian adalah pengorbanan. Pengorbanan dimanfaatkan banyak orang demi kepentingan mereka sendiri-sendiri. Semakin banyak berkorban, kamu yang jadi korban, akhirnya kamu mati dikorbankan.

 

Ya, mungkin ya itu. Terlalu banyak yang terpaku pada kenyataan. Kenyataan bahwa hidup memuja materi. Kalau itu memang yang terjadi, negara mungkin hanya dipandang sebagai ladang garapan, yang dimanfaatkan hanya untuk kepentingan perut sendiri.