Diterbitkan:
Senin, 25-Mar-2013, 09:07 WIB

Dilihat:
745 kali

Apa Lulusan Luar Negeri Bikin Makmur Desa?

foto gambar pembuka artikel Apa Lulusan Luar Negeri Bikin Makmur Desa?

Dari sekian banyak iklan-iklan pendidikan luar negeri yang kerap bertebaran di berbagai media, sebenernya aku sering bertanya-tanya:

 

"Apa lulusan (sekolah di) luar negeri bisa bikin makmur desa?"

 

Sebab, tak jarang kita jumpai anak-anak muda dari pelosok daerah yang berprestasi dan melanjutkan pendidikannya di luar negeri dengan bantuan beasiswa. Yah, ada juga sih anak-anak muda yang memang orangtuanya punya duit berlebih dan lantas menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri.

 

Itu tadi, setelah mereka selesai sekolah di luar negeri pertanyaannya adalah:

\n
    \n
  1. Apakah mereka kembali ke Indonesia?
  2. \n
  3. Jika mereka kembali, apakah mereka mengabdi di desa asalnya ataukah malah lari ke kota besar?
  4. \n
\n

Aku beberapa kali memikirkan pertanyaan yang kedua, misalnya saat singgah di pelosok desa terpencil di atas perbukitan yang akses jalan ke sana saja rusak. Mungkin saja ada bibit-bibit unggul dari desa ini yang belajar di luar negeri atau ya paling nggak di perguruan tinggi ternama di Indonesia. Ketika mereka dihadapkan pada kondisi desa mereka, apakah mereka bisa bikin desa mereka makmur? Apakah ada jaminan lulusan luar negeri bisa bikin makmur desa?

 

Aku kira sih nggak ada jaminan, soalnya selain harus berbekal ilmu teori, untuk bisa menaklukkan desa seseorang juga harus dibekali dengan ilmu budaya. Ibaratnya gini deh, lulusan luar negeri itu ibaratnya seperti komputer canggih yang ... canggih banget pokoknya, tapi budaya untuk menggunakan komputer canggih itu hanya sebatas untuk main game. Ya percuma dong!

 

Karena itu, aku berpikir untuk bisa membuat desa menjadi lebih makmur, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah budaya desa supaya bisa sinkron dengan lulusan luar negeri. Tapi kalau ini dilakukan, hampir bisa dipastikan kearifan lokal yang terpelihara bisa lenyaaap! Gimana? Serba salah toh?

 

Ini kembali ke tujuan, untuk apa sih belajar di luar negeri? Untuk memperoleh ilmu yang paling top atau untuk bekal mengabdi pada masyarakat desa? Sebetulnya, kondisi yang ideal adalah dengan menemukan permasalahan yang ingin diselesaikan sebelum menuntut ilmu. Misalnya saja di desa ada masalah perihal irigasi. Belajar di dalam negeri, ternyata ilmu tentang irigasi tidak mencukupi untuk menuntaskan masalah desa. Ternyata di luar negeri ada ilmu irigasi yang diyakini bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di desa. Tuntutlah ilmu irigasi itu ke luar negeri, dan kalau sudah selesai kembali ke desa untuk menyelesaikan masalah itu. Eh tapi ilmu irigasi dari luar negeri itu nggak bisa diterapkan di desa karena ada kendala budaya dan infrastruktur.

 

Bingung? Nggak usah mencoba menyalahkan pemerintah!

 

Aku kasih tahu deh ya. Setinggi apapun ilmu seseorang, mau itu diperoleh dari belajar di dalam negeri atau di luar negeri kek, itu nggak ada apa-apanya kalau nggak bisa mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat. Sebab, ilmu tertinggi, yang paling top, yang harus dipelajari orang adalah ilmu untuk beradaptasi. Di mana segala macam ilmu yang kita pelajari harus bisa diaptasikan dengan permasalahan di sekitar kita. Sebab ya itu, nggak ada kondisi yang ideal di masyarakat, yang suatu permasalahan bisa diselesaikan dengan mudah dengan satu cara.