Diterbitkan:
Senin, 15-Sep-2014, 23:34 WIB

Dilihat:
669 kali

Bapak Penumpang Kereta Api Sriwedari

foto gambar pembuka artikel Bapak Penumpang Kereta Api Sriwedari

Suasana gerbong kereta api Sriwedari dari Jogja menuju Solo di hari Minggu pagi itu lumayan sepi hingga dua bocah balita di sampingku bebas berlarian ke sana-sini. Sebagian besar penumpang duduk di bangku panjang yang saling berhadap-hadapan. Tidak ada yang berdiri selain segerombolan penumpang yang tak ingin terpisah antar sesamanya.

 

Di depanku duduk seorang bapak paruh baya. Bersendal jepit, bercelana pendek, dan berkemeja. Sedari tadi aku perhatikan ia nampak gelisah. Celinguk kanan. Celinguk kiri. Seperti mencari sesuatu.

 

Batinku, mungkin sang bapak cemas menanti kedatangan kondektur. Mungkin tiketnya bermasalah. Namun, saat kondektur datang memeriksa tiket, tak ada lanjutan kejadian yang patut untuk dicemaskan. Tiketnya baik-baik saja. Selepas kondektur berlalu, gelisahnya tak turut beranjak lalu.

 

Selepas kereta bertolak dari stasiun Klaten, aku perhatikan ia berbicara dengan penumpang di sebelahnya yang juga seorang bapak paruh baya. Aku lantas berpikir, mungkin sedari tadi ia cemas karena hendak merokok. Mungkin ia tengah meminta saran pada penumpang di sebelahnya, kiranya di mana tempat yang aman untuk merokok. Atau mungkin juga ia meminta sebatang rokok atau sesulut api?

 

Namun ternyata, semua itu salah. Tidak beberapa lama, si bapak yang sedari tadi bergulat dengan kecemasan mendadak bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu gerbong dan kemudian duduk di depannya dengan bersandar pada sudut bangku panjang. Setelahnya, ia terlelap sampai kereta Sriwedari tiba di Stasiun Purwosari.