Diterbitkan:
Minggu, 18-Des-2011, 17:22 WIB

Dilihat:
1367 kali

Belanja di Pasar Prambanan

foto gambar pembuka artikel Belanja di Pasar Prambanan

Seorang Wijna belanja? ke pasar? Nggak usah heran deh! Kalau aku nggak belanja, ya mana bisa aku punya bahan makanan untuk dimasak? Beli makan di warung memang lebih praktis, tapi kalau sering-sering ya bisa bikin dompet jebol. Maka dari itu, memasak makanan sendiri adalah penyelesaian terhemat agar aku tetap bisa bernapas 24 jam sehari.

 

Biasanya aku belanja di Pasar Kranggan. Jaraknya lumayan dekat dari rumah, hanya sekitar 5 menit nyepeda. Tapi kali ini aku mencoba belanja di Pasar Prambanan. Jaraknya ya jauh, sekitar 17 km dari rumah, butuh waktu sekitar satu jam nyepeda.

 

Buat apa sih belanja jauh banget sampai Prambanan yang notabene perbatasan propinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Mungkin hanya satu ini alasanku yang masuk di akal yang pembaca mau menerimanya:

 

Harga bahan makanan di Pasar Prambanan lebih murah dibandingkan di Pasar Kranggan.

 

Bedanya berapa sih? Sebetulnya hanya lima ratus hingga seribu rupiah saja. Kalau aku hanya belanja beberapa bahan makanan sih mungkin penghematannya tidak terlalu signifikan. Namun kalau aku belanjanya banyak, wah rasanya di dompet terasa lebih sesak oleh lembar-lembar uang (padahal hanya lembar seribu rupiah), hahaha. Bayangkan deh, misal kalau belanja 1 barang, hematnya hanya Rp 500, tapi kalau sepuluh barang kan bisa Rp 5.000 dan Rp 5.000 itu kan bisa dibelanjakan untuk berbagai bahan makanan lain toh? Hehehe.

 

Kadang, aku merasa kalau sifatku ini hampir mirip dengan sifatnya ibu-ibu pasar yang sensitif perihal harga. Yah, mau bagaimana lagi, setiap hari rasanya hidup kian berat dan bisa dipastikan harus terus mengencangkan ikat pinggang. Kalau orang ekonomi mungkin bakal mengambing-hitamkan laju inflasi yang naik terus tiap tahunnya. Sedangkan aku sebagai orang matematika hanya berpikir tentang mencari penyelesaian optimal agar aku tetap bisa makan dengan kendala penghematan isi dompet.

 

Sebagai contoh, harga tempe ukuran panjang yang dibungkus daun pisang bisa diperoleh dengan harga Rp 1.500 di Pasar Prambanan, sedangkan di Pasar Kranggan Rp 2.500. Jadi dengan uang Rp 5.000 di Pasar Prambanan aku bisa beli 3 tempe panjang (Rp 1.500 x 3 = Rp 4.500) itu bisa untuk makan selama seminggu. Tunggu dulu! Masih dapat kembalian Rp 500 lagi dan itu bisa untuk bayar parkir sepeda, hehehe.

 

Bahan makanan lain seperti sayur-sayuran juga lebih murah. Beli daun kangkung Rp 1.000 di Pasar Kranggan hanya dapat sedikit, tapi di Pasar Prambanan dapat banyak. Sebagai penggemar jajanan pasar, kue pukis isi 10 buah di Pasar Prambanan dijajakan dengan harga Rp 3.000, sedangkan di Pasar Kranggan Rp 5.000. Murah toh?

 

Situasi semacam ini menguntungkan di bulan penghujan (Desember 2011) seperti saat ini. Di mana harga-harga sayur dan buah melonjak naik karena gagal panen. Mungkin pembaca bingung, apa pengaruhnya hujan dengan gagal panen. Bukankah tanaman butuh air untuk bisa tumbuh besar? Iya, tapi kalau curah hujannya tinggi maka tanaman akan jadi lembab dan itu tidak baik karena tanaman akan cepat busuk. Alhasil tanaman yang semestinya dipanen setelah 3 bulan misalnya harus dipanen saat berusia 2 bulan supaya tidak terlalu lembab terkena hujan terus-menerus. Akibatnya, kualitas hasil panen jadi tidak maksimal, ukurannya kecil. Ketersediaan hasil panen yang kualitasnya bagus jadi sedikit dan akibatnya harganya mahal.

 

Wortel misalnya, di Pasar Kranggan harganya mencapai Rp 10.000/kg. Di Pasar Prambanan sedikit lebih baik Rp 7.000/kg tapi ukurannya kecil-kecil. Yang mengejutkan di Pasar Prambanan, ternyata wortel impor sudah banyak bercokol di lapak-lapak pedagang. Aku pikir wortel impor itu hanya tersedia di pasar swalayan aja, ternyata nggak. Harganya Rp 8.000/kg dengan ukuran wortel yang besar-besar. Sepintas sih wortel impor lebih menjanjikan, tapi suara hatiku (halah!) menolaknya dengan tetap memilih wortel lokal. Kasihan para petani wortel, kalau masyarakat lebih memprioritaskan wortel impor nanti harga wortel lokal turun dan petani terkena imbasnya. Lagipula rasa wortel yang tumbuh dari tanah lereng gunung Merapi lebih nikmat daripada wortel impor kok.

 

Jadi, mungkin selama musim penghujan ini aku bakal sering bolak-balik Pasar Prambanan. Walaupun jauh dan becek (di Pasar Prambanan masih jalan tanah belum aspal seperti di Pasar Kranggan), Pasar Prambanan menyediakan penyelesaian optimal agar aku tetap bisa makan dengan kendala penghematan isi dompet. Yah, semoga aku tetap sehat deh. Semoga pembaca juga sehat ya, jangan sakit di musim penghujan ini, hehehe.