Diterbitkan:
Selasa, 17-Jun-2014, 07:25 WIB

Dilihat:
566 kali

Boleh Menetap, tapi Jangan Ibadah

foto gambar pembuka artikel Boleh Menetap, tapi Jangan Ibadah

"Kamu boleh menetap di desa ini, tapi lebih baik jika Mas sekeluarga tidak beribadah", tekan bapak kepala desa pada keluarga pendatang baru itu

 

"Lho? Kenapa Pak?" tanya sang kepala keluarga kebingungan. Baru seumur hidup ini dia mendapati pernyataan yang melarangnya untuk beribadah.

 

"Gini ya Mas. Ibadah itu hal yang sangat sensitif buat warga desa ini. Agama yang Mas anut dan agama yang kami anut kan jelas beda ya Mas? Kalau Mas secara terang-terangan menunjukkan ibadah Mas di desa ini ya... kami merasa nggak nyaman Mas. Kan jelas ibadah Mas beda dengan cara ibadah kami. Tuhan yang Mas sembah juga beda dengan Tuhan kami. Ya gitu Mas?"

 

"Tapi kalau saya ibadah di dalam rumah sendiri gimana Pak?"

 

"Ya asal nggak ketahuan ya nggak apa-apa Mas. Sembunyi-sembunyi aja kalau mau beribadah. Tapi jangan sampai ibadah berjamaah. Nanti kalau tetangga tahu kan malah jadinya nggak nyaman toh Mas? Betul nggak?"

 

"Waduh, kok gitu ya Pak?"

 

"Ya gimana lagi ya Mas? Mungkin kapan-kapan Mas bisa sowan gitu ke tempat kami ibadah, supaya Mas ngerti gimana cara ibadahnya agama kami. Siapa tahu, Mas sekeluarga tertarik gitu untuk menganut agama kami. Jadinya kan ya kita sama-sama nyaman kan ya Mas?"