Diterbitkan:
Rabu, 25-Jul-2012, 07:26 WIB

Dilihat:
1860 kali

Buat Apa Sekolah Kalau Ujung-Ujungnya Pengangguran?

foto gambar pembuka artikel Buat Apa Sekolah Kalau Ujung-Ujungnya Pengangguran?

Buat apa kamu sekolah?

 

Pertanyaan itu dijawab oleh sebagian besar masyarakat dan juga mayoritas orangtua murid adalah untuk mencerahkan masa depan yang ujung-ujungnya adalah hal yang berkaitan dengan pekerjaan.

 

Oh jelas!

 

Sebab masa depan manusia di Indonesia itu bakal cerah kalau dia sekolah, kemudian jadi pintar, karena pintar maka dapat pekerjaan yang penghasilannya besar (banget), dan dengan itulah kriteria sejahtera bagi sebagian besar masyarakat Indonesia terpenuhi.

 

Jarang ada yang bilang bahwa sekolah itu mendidik budi-pekerti. Kenyataannya di sekolah saja marak aksi contek-mencontek (apalagi saat ujian) dan kenakalan (apalagi saat MOS) yang perlahan membuat kita semakin ragu untuk menempatkan semua anomali itu dalam bingkai "lumrah dilakukan sewaktu masih anak-anak".

 

Kalau mau mendidik budi-pekerti, ya masukkan saja ke pesantren atau biara. Mungkin itu anggapan sebagian orang, tapi melihat kenyataan pendidikan keagamaan yang kian ekstrim di beberapa tempat, membuat kita berpikir panjang ketika mendidik anak mengenai hitam dan putih di kehidupan yang serba abu-abu ini.

 

 

 

Kembali ke topik inti, buat apa kita sekolah?

 

Pengangguran yang kini marak terjadi adalah karena terbatasnya lapangan pekerjaan dengan jumlah angkatan kerja. Penyelesaian untuk masalah ini adalah dengan membuka lapangan pekerjaan. Tapi siapa yang berkenan menjadi dermawan untuk memodali membuka lapangan kerja di tengah kondisi ekonomi yang labil ini?

 

Selama ini yang terjadi adalah persaingan yang benar-benar ketat untuk memperoleh pekerjaan.

 

Sekolah diyakini sebagai tempat untuk membekali manusia guna menjadi unggul dalam persaingan. Itu gunanya menjadi pintar kan?

 

Sayangnya, peserta yang bersaing kian hari kian bertambah banyak. Kompetisi jadi makin ketat. Perbandingannya bisa 1:1.000. Bakal ada 999 yang tersisih dan hampir semuanya punya kompetensi yang sama.

 

 

 

Mungkin karena kepintaran hasil dari proses pembelajaran sekolah itu hanyalah kepintaran yang sudah template, sudah ada cetakannya. Ibaratnya, "kamu itu termasuk pintar kalau kamu menguasai A, B, C, D, E, ..." yang penguasaan itu wajib diterjemahkan dalam skala nilai 0 hingga 10.

 

Ketika semua orang menjadi pintar seragam, apa yang dicari? Pantas saja persaingan kian ketat dan pengangguran jadi bertambah banyak.

 

 

 

Penyelesaiannya adalah banyak orang yang memilih mendalami ilmu yang tak dimiliki orang lain. Memang sih ilmu itu tidak akan habis-habis. Contoh mudahnya, kalau lulusan SMA sulit memperoleh pekerjaan ya belajar lagi untuk jadi lulusan S1. Kalau lulusan S1 sulit ya jadi lulusan S2. Kalau lulusan S2 pun sulit ya S3. Bahkan mungkin saja di kemudian hari yang entah kapan bakal ada gelar Sn+1, S1.000 misalnya.

 

Semua proses itu butuh uang dan jadi kontradiksi dengan maksud dari sekolah yaitu menjadi pintar, guna memperoleh pekerjaan, yang akan menghasilkan uang. Pantas saja, kalau lantas di beberapa tempat ada yang menawarkan lapangan pekerjaan dengan imbalan uang.

 

 

 

Mari kita berpikir lagi, buat apa (dulu atau sekarang) kita sekolah.