Diterbitkan:
Sabtu, 03-Mei-2014, 09:41 WIB

Dilihat:
580 kali

Budi dan Babi

foto gambar pembuka artikel Budi dan Babi

Sebut saja namanya Budi. Dia remaja tanggung yang duduk di kelas 5 SD namun sejatinya lebih pantas duduk di kelas 1 SMP. Mungkin sebab itu, rasa keingintahuannya besar. Terlebih untuk hal-hal yang mestinya sederhana untuk ukurannya.

 

"Mas, babi itu kayak apa sih?"
"Babi? Hewan babi maksudmu Bud?"
"Iya mas, hewan babi, memang babi ada banyak ya Mas?"
"Ya nggak Bud, babi itu ya hewan, ya hanya satu itu nggak ada babi yang lain."

 

"Iya Mas. Itu wujudnya babi kayak apa Mas?"
"Ya kayak yang kamu lihat dimana-mana lah Bud?"
"Yang aku lihat itu babi yang wujudnya kartun Mas. Emang babi beneran bisa ngomong dan berdiri ya Mas?"

 

Batinku ini Budi kok polos banget? Masak tontonan televisi dan cerita bergambar dia anggap nyata? Tapi kemudian aku jadi mikir. Kayaknya, memang jarang ada media yang memajang foto hewan babi utuh.

 

"Pergi ke Gembiraloka aja Bud. Siapa tahu ada." Gembiraloka itu nama kebun binatang di kota Jogja
"Di Gembiraloka nggak ada babi Mas. Kucing sama sapi aja nggak ada Mas." sahut Budi yakin

 

Waduh, batinku, masak di Gembiraloka pun nggak ada babi? Gimana ini caranya biar Budi ngerti wujudnya babi? Masak harus aku tunjukin peternakan babi? Memangnya di Jogja ada peternakan babi? Eh tunggu dulu. Apa Budi ini memang sengaja diarahkan supaya nggak tahu babi?

 

"Bud, kamu udah tanya Bapak sama Ibumu belum?"
"Udah Mas, katanya Bapak sama Ibu nggak sopan."
"Hah? Nggak sopan gimana Bud?"
"Iya mas, ngomongin babi itu nggak sopan. Di rumah juga kalau ngomong babi pakai istilah Mas."
"Istilah apaan Bud? B2?"
"Lha Mas tau toh? Katanya Bapak sama Ibu, babi itu najis Mas, haram, makanya nggak boleh diomongin, ntar dosa Mas."
"Bukannya ini kita lagi ngomongin babi Bud?"
"Eh iya ya Mas? Ya udah Mas nggak usah diterusin. Ntar kalau penasaran aku tanya Mas lagi."

 

Kayaknya kapan-kapan aku mesti ngobrol sama orangtuanya Budi deh.