Diterbitkan:
Kamis, 24-Nov-2016, 08:31 WIB

Dilihat:
285 kali

Bus Kota dan Sepeda Motor di Perempatan Mirota Kampus

foto gambar pembuka artikel Bus Kota dan Sepeda Motor di Perempatan Mirota Kampus

Dari sekian banyak simpang empat jalan raya (perempatan) yang ada di Yogyakarta, tersebutlah suatu perempatan yang orang Jogja akrab menyebutnya sebagai Perempatan Mirota Kampus.

 

Perempatan Mirota Kampus berjarak sekitar 2 km dari Tugu Pal Putih Yogyakarta. Sesuai namanya, perempatan ini diapit oleh bangunan Swalayan Mirota Kampus dan juga tiga bangunan ikonik lain, yakni MAN 1 Yogyakarta, Kampus FMIPA Selatan UGM, dan Restoran KFC.

 

###

 

Pada suatu pagi menjelang siang, arus kendaraan terpantau padat dari ketiga cabang jalan di Perempatan Mirota Kampus. Satu cabang jalan lagi memang tidak pernah padat semenjak diubah menjadi jalan satu arah pada Agustus 2014 silam.

 

Di cabang jalan sisi barat Perempatan Mirota Kampus (yang banyak kios-kios permak jeans) sejumlah sepeda motor memadati bagian depan antrian kendaraan. Antrian kendaraan sendiri mengular panjang sampai pertigaan dekat Kampus MAP Fisipol UGM.

 

 

Lampu lalu lintas menyala hijau di cabang jalan sisi utara Perempatan Mirota Kampus (yang arah ke Kaliurang). Suatu bus kota yang berada di urutan terdepan antrian kendaraan pun melaju serta berbelok ke cabang jalan sisi barat Perempatan Mirota Kampus.

 

Sayang, manuver berbeloknya bus kota ini tidak berjalan mulus. Sepeda motor yang memadati bagian depan antrian kendaraan menghalangi bus kota untuk menikung cantik. Ditambah lagi, ruas jalan sisi barat Perempatan Mirota Kampus ini terbilang sempit. Alhasil, ruang gerak bagi bus kota untuk berbelok pun terbatas.

 

 

 

Karena tak bisa berbelok bus kota pun berhenti di depan lampu lalu lintas sisi barat. Dari jendela samping kemudi, sang sopir menjulurkan kepala seraya berkata pada seorang pengendara motor di antrian kendaraan sisi barat,

 

“Sudah jalan saja mbak! Nggak apa-apa!”

 

 

Pengendara sepeda motor yang berjenis kelamin wanita itu pun balik memandang sang sopir bus kota dengan raut wajah penuh keraguan. Di dekat Restoran KFC terlihat ada polisi lalu lintas yang bersiaga. Jangan-jangan, bila si mbak ini melajukan sepeda motornya ia bakal ditangkap oleh sang polisi karena melanggar aturan lalu lintas.

 

Di cabang jalan seberang timur (yang dekat Swalayan Mirota Kampus) kendaraan yang ingin melaju ke cabang jalan sisi barat tidak bisa berkutik karena terhalang oleh bus kota yang tengah berhenti itu. Bunyi-bunyi klakson mulai terdengar bersahut-sahutan di belakang bus kota.

 

 

Para pengendara yang terhenti di belakang bus kota seakan-akan berujar,

“Kenapa ini kok bus kotanya tidak jalan? Gimana aku bisa lurus?”

 

Sang sopir bus seakan-akan berkata,

“Ayo cepat mbak kamu lajukan sepeda motormu! Supaya aku bisa belok dan antrian kendaraan di belakang bus nggak bikin macet!”

 

Pengendara sepeda motor di sisi barat yang sama-sama mengantri bareng mbak pengendara motor seakan-akan berkata,

“Ayo mbak! Kami semua menanti keputusanmu! Untung saja aku nggak berada di posisimu....”

 

Sedangkan mbak pengendara sepeda motor seakan-akan berkata,

AKU HARUS GIMANA INI? Kalau aku nggak maju, busnya nggak bisa belok dan jadi macet. Tapi, kalau aku maju nanti aku ketilang!?”

 

 

Jadi, si mbak memilih mengorbankan macetnya jalan atau memilih mengorbankan dirinya kena tilang?

 

###

 

Tuhan rupanya berkehendak lain.

 

Sekitar 5 detik sejak sang sopir bus kota dan si mbak pengendara motor bertatap-tatapan, lampu lalu lintas di sisi barat pun menyala hijau! Laksana suatu mukjizat mengingat papan display detik tunggu di sisi barat ini tidak berfungsi.

 

Si mbak pun tanpa pikir panjang langsung melajukan kendaraannya secepat mungkin. Sang sopir bus kota kemudian membelokkan kendaraannya dan berhasil masuk ke cabang jalan. Antrian panjang kendaraan di sisi barat dan timur pun pelan-pelan terurai.

 

 

Dan di atas sepeda warna kuning itu pun aku melaju....