Diterbitkan:
Rabu, 05-Ags-2015, 08:17 WIB

Dilihat:
257 kali

Ceramah Lebaran

foto gambar pembuka artikel Ceramah Lebaran

Shalat ied di hari Jum'at pagi benar-benar spesial. Bukan karena mendadak di kota Jogja muncul kabut. Tapi karena ingus meler sederas hujan di bulan Januari. Dari mulai awal shalat sampai selesai ceramah. Ditambah lagi nggak bawa sapu tangan atau pun tisu. Komplit sudah penderitaan.

 

Untung shalat ied hanya dua rakaat pun bacaannya nggak panjang-panjang. Sempat lega karena nggak mesti kelamaan akrobat narik-ulur ingus. Jorok? Emang iya. Tapi lebih jorok lagi kalau dilap di baju. Bakal basah kuyup sama ingus. Lebih jijik toh?

 

Selesai shalat. Giliran khatib naik mimbar buat ceramah. Penderitaan pun berlanjut. Ingus semakin nggak terkendali. Posisi duduk pas di tengah-tengah. Di baris saf tengah. Di kolom saf tengah. Susah mau keluar apalagi hanya untuk sekedar mlipir nyari keran air.

 

Apa boleh buat. Terpaksa duduk manis sambil bersabar di awal 1 Syawal. Berharap terhibur sama ceramahnya. Materi ceramahnya dicetak dan dibagikan ke jamaah. Sekitar 5 lembar kertas A4, Times New Roman, font 10 point, spasi 1 baris.

 

Khatib undangan dari perguruan tinggi. Hanya membaca teks dari kertas. Tanpa intonasi. Flat. Datar. Materinya pun nggak menarik. Sekedar basa-basi kalau sekarang Syawal dan kemarin Ramadhan. Terlalu membosankan dan banyak bikin nguap.

 

Adek-adek bayi menangis.
Anak-anak lari-lari keluar saf.
Bapak-bapak mengepulkan asap rokok.
Aku?
Masih berkutat keras menanggulangi banjir ingus pakai alas shalat kertas koran.

 

 

 

Siang harinya shalat Jum'at. Setelah terkapar hampir 4 jam akhirnya ingus agak surut. Berbekal masker dan sapu tangan, nyepeda ke luar mencari masjid lain. Jaga-jaga, seumpamanya khatib masih dikontrak sampai dzuhur.

 

Shalat Jum'at di masjid kecil. Khatibnya bapak paruh baya. Khatib ceramah singkat. Nggak sampai 15 menit. Materinya sederhana. Perkara maaf memaafkan. Tanpa salinan kertas.

 

Jamaah sesekali tertawa. Kayaknya khatib warga situ. Kenal dengan sesama jamaah. Baik bapak-bapak, mas-mas, dan anak-anak memperhatikan. Aku? Duduk bersandar sambil istighfar. Kok beda banget dua ceramah lebaran hari ini.