Diterbitkan:
Minggu, 10-Des-2017, 11:01 WIB

Dilihat:
172 kali

Dia Meninggal karena Salahku?

foto gambar pembuka artikel Dia Meninggal karena Salahku?

"Jadi dia meninggal karena salahku!?" seru Budi di ruang kerjanya.

 

Budi adalah pria berusia 40-an tahun yang mengepalai divisi SDM di kantor tempatnya bekerja. Sedangkan "dia" adalah seorang peserta seleksi karyawan baru.

 

Kebetulan pada sesi wawancara dua minggu silam, Budi termasuk salah satu orang yang mewawancarai "dia". Ketika diwawancarai oleh Budi, "dia" memohon-mohon agar diterima sebagai karyawan baru. Kata "dia" sudah hampir setahun ini hidupnya terlilit hutang. Baik sanak keluarga maupun teman-temannya tidak ada yang tergerak hati untuk membantu kehidupannya. Bekerja sebagai karyawan di kantor Budi merupakan pilihan terakhir agar dirinya memiliki uang untuk membayar hutang.

 

Pada akhirnya, dengan penuh pertimbangan bersama rekan-rekan panitia seleksi karyawan baru, Budi memutuskan untuk tidak menerima "dia". Alasannya kepribadian "dia" kurang cocok untuk bekerja di kantor tersebut. Selain itu kemampuan "dia" tidak begitu menonjol dibanding para peserta yang lain.

 

Selang beberapa hari setelah pengumuman hasil seleksi penerimaan karyawan baru "dia" mendatangi kantor Budi. Dengan penuh emosi "dia" ingin bertemu Budi selaku kepala divisi SDM untuk memprotes hasil seleksi tersebut. Beruntunglah para petugas keamanan dengan sigap menahan "dia" agar tidak membuat kericuhan di kantor.

 

Dua hari kemudian, harian lokal mengabarkan bahwa seorang penjaga kos menemukan "dia" mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di kamar kosnya. Secarik kertas yang ditulis olehnya ditemukan di dekatnya. Selain permintaan maaf dalam surat tersebut ia menyebutkan alasan kematiannya karena gagal diterima sebagai karyawan baru.

 

Pada siang itu, sekretaris Budi mengabarkan bahwa sejumlah aparat kepolisian hendak menemuinya untuk meminta keterangan atas kematian "dia". Di tengah gelisahnya seorang Budi, rekan dari divisnya berujar,

 

"Coba saja dulu Bapak terima dia. Mungkin dia tidak akan bunuh diri."

 

"Yang benar saja!" seru Budi. "Bagaimana nanti jika dia malah membuat masalah di kantor ini! Bagaimana nanti jika dengan kepribadiannya dia bunuh diri di kantor ini karena tidak tahan bekerja dengan ritme sibuk kita?"

 

"Ya saya kurang tahu hal itu Pak." jawab rekan Budi. "Tapi yang jelas Bapak kan tidak bakal dibawa-bawa saat dia mati."