Diterbitkan:
Rabu, 10-Okt-2012, 10:02 WIB

Dilihat:
825 kali

Guru TK, SD, SMP, dan SMA para Pengusaha

foto gambar pembuka artikel Guru TK, SD, SMP, dan SMA para Pengusaha

Aku teringat oleh ucapan seorang guru SMA ku dulu. Beliau bilang,

 

"Saya akan tetap jadi guru, meskipun kalian yang saya ajar sudah jadi pengusaha"

 

Setelah teringat ucapan guruku itu, aku jadi sadar, betapa "berat" pengorbanan mereka.

 

 

 

Kata "berat" sengaja aku beri tanda kutip untuk menunjukkan bentuk pengorbanan mereka. Mudahnya saja, para pengusaha itu hidup sejahtera, sementara para guru kesejahterannya masih diperjuangkan (apalagi guru honorer). Yah, bisa dibilang juga sih pengusaha itu bisa kaya, sementara guru susah jadi kaya. Pembaca bandingkan sendiri lah, bagaimana kesejahteraan para pengusaha yang mobil dan rumahnya di mana-mana dengan para guru yang menghuni rumah kontrakan dan kemana-mana naik angkot.

 

Eh, tapi jangan malah dipikir negatif ya! Sebab nasib yang dipilih oleh para guru ini bukan pilihan buruk! Ini suatu bentuk pengabdian yang bila dijalani dengan sabar dan ikhlas, InsyaAllah akan membawa berkah di dunia dan di akhirat kelak. Amin.

 

Jauh lebih berharga dari pundi-pundi uang yang didulang para pengusaha toh?

 

 

 

Terus terang, yang seperti ini kadang membuat aku berpikir, betapa tidak adilnya hidup ini. Yah, semua pengusaha pasti harus melalui masa kanak-kanak, remaja, hingga dewasa kan? Mereka pasti dulunya sekolah, belajar guna menuntut ilmu, memupuk bekal mereka menjadi pengusaha kelak.

 

Sedangkan guru apa yang mereka dapatkan? Ketika kesejahteraan mereka masih jauh dari harapan? Padahal mereka memiliki ilmu yang mana ilmu itu dipergunakan anak didiknya untuk menjadi pengusaha.

 

 

 

Saya yakin, para guru bukanlah para pengejar materi. Mereka bangga dan terharu tatkala menyaksikan anak didiknya menjadi orang yang sukses.

 

Tapi kalau dipikir-pikir, menjadi guru itu berat juga. Sebab, guru juga dituntut untuk mendidik moral anak didiknya, agar mereka tidak menyalah-gunakan ilmu yang diajarkannya. Apalagi emosi anak-anak dan remaja masih labil, mudah terpengaruh oleh banyak hal. Jangan sampai deh jadi pengusaha yang senang korupsi.

 

 

 

Tulisan ini menjadi semacam "pembalasan" pada konsep berpikir para orangtua yang menginginkan anaknya kelak menjadi seorang yang sukses dan sejahtera (macam pengusaha). Semoga orangtua-orangtua ini melihat para guru, yang tetap menjadi guru walau anak didiknya sudah sukses. Seseorang yang sukses tak akan menjadi seperti ini tanpa peran dari para guru di TK, SD, SMP, dan SMA yang menuangkan ilmu untuknya.

 

 

 

Terinspirasi dari peristiwa perjumpaan seorang alumni siswa SMA dan gurunya di sekolah. Sang siswa mengendarai mobil sedan yang masih baru, sementara gurunya mengendarai motor lamanya yang masih ia pergunakan hingga saat ini.