Diterbitkan:
Rabu, 23-Apr-2014, 22:14 WIB

Dilihat:
463 kali

Hanya Jadi Guru dan Ingin Naik Haji

foto gambar pembuka artikel Hanya Jadi Guru dan Ingin Naik Haji

Teh manis hangat yang semula terhidang mendadak terasa tawar dan hambar. Wanita lanjut usia itu kembali mengeluh untuk yang kesekian kalinya, bahwa "Anakku hanya jadi guru SD".

 

Guru memang pekerjaan mulia. Bahkan dijuluki pahlawan tanpa tanda jasa. Namun tidak bagi wanita lanjut usia itu. Dia punya satu masalah besar, "Bagaimana nanti aku bisa naik haji?".

 

Apa hubungan antara guru SD dan naik haji? Terlebih lagi, bukankah guru SD itu pekerjaan yang dilakoni sang anak? Sedangkan naik haji hanya sebatas keinginan wanita lanjut usia itu? Memang betul berbeda, namun dirinya menganut ketentuan, "Anak lah yang harus membuat orangtuanya bisa naik haji. Aku sekolahkan dia setinggi mungkin. Aku beri dia yang terbaik. Aku tidak minta apapun padanya selain membuatku bisa naik haji."

 

Ketentuannya terdengar agak memaksa, namun sebetulnya bisa lah sang anak menaikkan haji orangtuanya dengan upahnya sebagai guru SD. Bukankah ada pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit? Hal yang sama tentu juga berlaku terhadap uang yang bakal ditabung sang anak kan?

 

Namun lagi-lagi, untuk wanita lanjut usia itu dia tak mau menunggu lama, "Aku sudah tua. Sudah hampir mau mati. Sudah tak bisa lagi menunggu lama untuk naik haji."

 

Usia manusia hanya Tuhan yang paham. Namun, wanita itu sepertinya lebih paham akan usia pekerjaan sang anak sebagai guru SD, "Dia itu masih guru honorer. Gajinya tak seberapa. Tak tahu kapan dia diangkat jadi PNS. Tak tahu kapan dia bisa menyisihkan banyak uang agar aku bisa naik haji."

 

Untuk yang kesekian kalinya wanita lanjut usia itu menyesali pilihan sang anak mengabdi sebagai guru SD. Sebenarnya toh ini bukan masalah pekerjaan sebagai guru SD. Pada dasarnya ia memang orang yang tidak mampu. Bukankah naik haji itu hanya untuk mereka yang mampu? Wanita itu menganggapnya tidak, "Aku belum Islam kalau belum naik haji. Aku memang tidak mampu, tapi anakku mampu untuk membuatku mampu naik haji asalkan dia melepas pekerjaanya sebagai guru SD dan mencari pekerjaan lain agar aku segera dapat naik haji".

 

Teh hangat berangur menjadi dingin. Berangur-angsur pula lah air mata menetes membasahi pipi wanita lanjut usia itu.