Diterbitkan:
Jum'at, 09-Des-2016, 07:55 WIB

Dilihat:
275 kali

Ibu Bilang Capek

foto gambar pembuka artikel Ibu Bilang Capek

Pada suatu sambungan telepon. Kala malam mulai beranjak larut. Ibu berujar kepadaku,

 

"Capek Le! Buat apa?"

 

Ibu berkata capek. Capek akan sesuatu hal yang tiada ada manfaatnya.

 

"Buat apa benci ke orang? Itu cuma bikin capek diri sendiri!"

 

 

###

 

 

Ibu adalah suatu kelainan. Eh, bilamana kata "kelainan" terkesan negatif, mungkin bisa diganti dengan kata "anomali". Yang jelas Ibu menurutku punya sifat yang berbeda dari wanita pada umumnya.

 

Entah kenapa, selama ini aku kerap berpikir bahwa wanita itu cenderung bertindak dengan mengedepankan emosi atau perasaan. Sedangkan sebaliknya, pria cenderung bertindak dengan mengedepankan akal.

 

Ibu adalah seorang wanita yang bertindak dengan mengedepankan akal. Dari semenjak muda hingga di usia tuanya ini.

 

 

###

 

 

Ibu adalah seseorang wanita yang tidak lazim, ketika media-media sosial yang kuikuti banyak memuat keluh-kesah wanita-wanita dari berbagai rentang usia.

 

Aku bertanya, "Ibu pernah mengeluh?" Ibu menjawab tidak.

Aku bertanya, "Ibu pernah kecewa karena kenyataan tidak sesuai harapan?" Ibu menjawab tidak.

Aku bertanya, "Ibu pernah meratapi nasib?" Ibu menjawab tidak.

 

 

###

 

 

Kemudian Ibu bercerita. Ibu juga manusia biasa. Ibu juga wanita yang pernah galau tatkala adik-adiknya sudah menikah namun dirinya yang sudah berusia tiga puluh ke atas belum juga memiliki pendamping.

 

"Tapi tidak sampai sedih sampai meratapi nasib!", ujarnya

 

Lantas aku bertanya, apa yang Ibu lakukan sehingga Ibu bisa tidak dikendalikan oleh perasaan?

 

"Banyak-banyak doa, shalat, puasa Le! Awalnya Ibu sering puasa itu dulu sewaktu mau masuk perguruan tinggi. Ibu kan nggak langsung kuliah setelah lulus SMA. Nggak keterima di perguruan tinggi negeri. Jadi, selama nunggu waktu setahun untuk tes lagi itu ya Ibu jadi sering puasa. Setelah kuliah ya puasanya masih lanjut walaupun jarang."

 

 

###

 

 

Di luar sana, bisa jadi banyak wanita yang memiliki sifat seperti Ibu. Tentu Ibu juga memiliki banyak kekurangan sehingga tidak tepat bilamana dijadikan panutan.

 

Ibu hanya manusia biasa yang punya sifat yang sedikit berbeda.

 

"Ibu bahagia!", ujarnya mantap.

 

Ibu hanya tidak ingin capek karena dibebani oleh perasaan.