Diterbitkan:
Senin, 05-Ags-2013, 20:52 WIB

Dilihat:
593 kali

Karena Disuruh Masuk Surga Sendiri-Sendiri

foto gambar pembuka artikel Karena Disuruh Masuk Surga Sendiri-Sendiri

Inspirasi sambil ngendog di malam hari ini datang dari renungan sepanjang jalan mencari jamban terdekat untuk menuntaskan hasrat yang mendesak disalurkan. Masih dengan sepeda, aku berjuang mengayuh sambil menahan rasa tidak nyaman yang melanda perut.

 

Sepanjang jalan, banyak itu sepeda motor berlalu-lalang dari selatan ke utara dan juga arah sebaliknya. Di Jogja ini memang motor kian hari kian bertambah banyak. Seperti ada sebuah keharusan bahwa kalau berpergian harus naik motor. Betul? Ya, dianggap betul sajalah ya.

 

Suatu ketika, aku berpapasan sama seorang bapak yang naik sepeda motor dan tidak pakai helm. Dari penampilannya, beliau ini pantas kalau jadi imam di masjid. Sehingga, aku teringat dengan ceramah beberapa menit yang lalu yang mengambil tema "masuk surga".

 

Kembali ke bapak yang naik motor barusan, aku jadi berpikir, sepertinya kita ini disuruh untuk masuk surga sendiri-sendiri. Lha wong pak imamnya (anggap saja bapak yang naik motor itu imam) saja naik motor kok dan nggak membonceng penumpang.

 

Asal tahu ya, sepeda motor itu peraturannya kan hanya bisa memuat dua penumpang saja. Lha kalau bapak imamnya itu membonceng satu orang jamaahnya, maka jamaah yang lain mau dikemanakan? Disuruh nyari kendaraan sendiri buat masuk surga?

 

Kalau aku pikir-pikir lagi, kita itu sebenarnya jarang dilatih untuk mengedepankan kepentingan bersama. Contohnya, siapa yang dulu pas masih kecil sering dapat pelajaran naik angkutan umum? Jarang toh ya? Kita itu selalu didorong untuk memperoleh kenyamanan, tapi nggak memikirkan bagaimana kenyamanan buat orang lain.

 

Pada akhirnya, sebelum masuk jamban, aku berpikir, mungkin segala macam tindak-tanduk yang mengatasnamakan agama itu sebenernya cara supaya hanya segelintir orang saja yang masuk surga, nggak peduli dengan yang lain. Itu karena semua disuruh masuk surga sendiri-sendiri?