Diterbitkan:
Rabu, 24-Jul-2013, 21:16 WIB

Dilihat:
694 kali

Ketika Mbah Tak Seperti Biasanya

foto gambar pembuka artikel Ketika Mbah Tak Seperti Biasanya

Berhubung kantor dan padepokan hanya terpisahkan oleh kali yang dilintasi jembatan, akhir-akhir ini aku sering mlipir ke padepokan. Dari mulai minta ditraktir, mencari petualangan, numpang pipis, sampai ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas bareng ayam kate, kucing bernama ganda, hingga almarhum biawak.

 

Suatu sore mampirlah aku ke padepokan. Setelah membuat kegaduhan di bawah pohon nangka, muncullah sang empunya rumah. Masih dengan seragam hitam-hitam khas simbah. Kali ini tanpa pakai ruben.

 

Setelah memberi simbah sajen, aku tanpa sopan-santun langsung melabrak ke dalam rumah. Kalau kupingku memang masih waras, aku mendengar suara ngeong anak kucing. Di luar rumah aku mendengar simbah bercuap-cuap. Entah dia ngomong apa. Aku baru perhatian saat kembali menjumpai simbah di teras.

 

"Koe ngopo e mbah?"

 

"Aku ora iso ngomong"

 

"Hah? Mosok?"

 

Aku pikir simbah bercanda. Wong dasarnya memang ora kalap. Tapi lama-lama kok ya seperti betulan...

 

"Koe loro opo e mbah? tenane iki!?"

 

"Aku keracunan"

 

Langsung saja aku tutup hidung dan mulutku pakai tangan. Takutnya, aku benar-benar sedang berada di zona radiasi racun di rumah labirin ini.

 

Tapi toh, aku tidak bisa mencegah tertawa terbahak-bahak. Ketika simbah cerita tak seperti biasanya dia menuntun sepeda nanjak Cinomati sambil berkeringat.