Diterbitkan:
Senin, 22-Jun-2015, 18:02 WIB

Dilihat:
233 kali

Ketika Tempat Lahirmu Bermasalah

foto gambar pembuka artikel Ketika Tempat Lahirmu Bermasalah

Buat sebagian besar orang penulisan tempat lahir tidak pernah digiring ke ranah bermasalah. Sementara, untuk beberapa orang yang lain, penulisan tempat lahir adalah hal yang bermasalah.

\n

Entah itu Kartu Tanda Penduduk, Surat Ijin Mengemudi, ataupun Paspor selalu menyertakan kolom Tempat Lahir. Kalau dalam bahasa londo, disebut sebagai Place of Birth.

\n

Tempat lahir di KTP-nya Mas Kelik misalnya, tertulis Bantul. Sementara di KTP-nya Mbak Laras tertulis Kulon Progo. Sedangkan untuk Pakdhe Tejo dan Budhe Sri tertulis Sleman dan Gunung Kidul.

\n

Berarti tempat lahir itu diambil dari nama kabupaten di suatu provinsi.

\n

 

\n

Lain halnya dengan Rian. Kolom tempat lahir di KTP-nya tertulis Yogyakarta. Maksudnya Yogyakarta itu pastilah Kota Yogyakarta, bukan Provinsi Yogyakarta.

\n

Dari sini saja sudah bikin bingung. Misal disebut nama Yogyakarta, apakah itu maksudnya kota ataukah provinsi? Kalau disebut provinsinya DI Yogyakarta jelas tidak bingung. Tapi bagaimana nasibnya Jambi dan Bengkulu? Apakah harus dibedakan penyebutan Provinsi Jambi dan Kota Jambi?

\n

Yang berkonflik tidak hanya kota – provinsi, melainkan juga kota – kabupaten. Misalnya, bila disebut Semarang itu maksudnya Kota Semarang atau Kabupaten Semarang ya?

\n

 

\n

Mumet? Ah, ngapain juga dipikir mumet. Karena nggak mumet, mari kita bergerak ke kebingunan selanjutnya.

\n

 

\n

Andaikan memang tempat lahir itu mengacu pada nama kabupaten. Semestinya untuk mereka yang terlahir di Jakarta mengisi kolom tempat lahir semacam Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Bukan singkat Jakarta saja.

\n

Eh, tapi Jakarta sebagai provinsi itu memang disebut Jakarta ataukah DKI Jakarta? Karena dalam berbagai surat resmi, kalau menyebut Jakarta ya hanya Jakarta saja, bukan DKI Jakarta. Jadi kapan menyebut Jakarta dan  DKI Jakarta?

\n

 

\n

Jadi kepikiran. Kalau misal ada yang hendak mendata orang-orang yang lahir di Jakarta Pusat, tentu KTP tidak akan bisa jadi patokan selama semua warga Jakarta mengisi kolom tempat lahir dengan Jakarta saja.

\n

Jadi gimana? Maunya di identitas hanya tertulis Jakarta saja tapi tetap terdata sebagai Jakarta Pusat?

\n

 

\n

Tidak konsisten ya antara penyebutan nama dengan yang dimaksud? Karena tidak konsisten itulah jadinya bikin bingung. Tapi toh sebagian besar orang umumnya tidak ambil ribut dengan ketidak-konsistenan ini. Mereka baru ribut ketika kolom agama di KTP dihilangkan. Padahal di Paspor ya tidak mencantumkan kolom agama. Tidak konsisten lagi toh?

\n

Tapi ya selama orang lahir di daratan Indonesia masalahnya tidak akan sebingung orang yang lahir di laut (kapal) atau di langit (pesawat).