Diterbitkan:
Senin, 14-Jul-2014, 21:40 WIB

Dilihat:
569 kali

Komputerku Terpasang AMD

foto gambar pembuka artikel Komputerku Terpasang AMD

Pada waktu ocehan ini ditulis, AMD sedang menggelar event lomba penulisan artikel blog bernama AMD Blog Writing Competition. Buat yang belum tahu, AMD itu adalah nama produsen komponen komputer. Di Indonesia, AMD umum dikenal sebagai salah satu merk prosesor yang bersaing ketat dengan merk sejuta umat, Intel.

 

O ya, artikel ini nggak diikutsertakan ke lomba AMD Blog Writing Competition lho. Sebabnya, nggak ada satu pun dari dua pilihan tema berikut yang memenuhi syarat.

 

Tema yang pertama, Teknologi entertainment masa depan AMD, menambah asyiknya nge-game, itu jelas bukan aku banget. Karena semenjak aku terjerumus ke dalam dunia kerja, aku tidak pernah lagi main game. Bukan karena nggak ada waktu, tapi waktu luang habis untuk blusukan. Buatku, blusukan melihat dunia luar adalah hiburan terbaik. Selain agar tidak hidup 24 jam di depan monitor, nafsu untuk memburu uang bisa lumayan terkekang karena uang bukan segalanya di dunia ini.

 

Tema yang kedua, Impian teknologiku diwujudkan oleh AMD, juga nggak cocok. Karena seumur-umur aku belum pernah sekalipun mimpi dapat hadiah prosesor AMD. Eh, jangankan pas mimpi. Buatku, dapat hadiah prosesor itu belum tentu menyenangkan lho. Iya sih prosesornya gratis, tapi motherboard-nya gimana? Masak harus beli baru? Sebab umumnya, prosesor terbaru (tak terkecuali bikinan AMD) itu nggak kompatibel dengan motherboard lawas. Jadi, kalau prosesornya baru, umumnya mesti dipasang ke motherboard seri terbaru pula, keluar duit banyak deh.

 

 

 

Walaupun begitu, saat ini semua komputer yang aku rakit dan pakai memakai prosesor AMD. Kenapa? Pertama, karena AMD bukan prosesor mainstream. Kedua, harganya murah. Serius! Datengin aja toko komputer dan bandingkan harga prosesor bikinan AMD dan Intel.

 

Ah, aku sebenarnya nggak urusan Intel mendukung Israel atau nggak. Andaikata Intel memangkas harga prosesornya setara AMD, mungkin aku bakal tergiur buat berpaling ke Intel. Sebab, secara performa sebagian besar prosesor Intel lebih unggul dibandingkan AMD. Kekurangannya hanya satu, harga prosesor Intel mahalnya selangit! Biasalah, udah terkenal jadinya mahal.

 

Oleh karena itu, prosesor AMD jadi pilihan buat konsumen berkantong cekak seperti aku. Bayangkan, hanya kurang dari 1,5 juta rupiah sudah bisa dapat prosesor AMD + motherboard. Kalau Intel mana bisa gini?

 

Beruntungnya pula, semenjak Radeon diakuisisi oleh AMD, otomatis seluruh onboard graphic pada motherboard dengan chipset AMD adalah Radeon. Yummy! Semoga saja, Intel nggak mengakuisisi nVidia supaya AMD masih menang dari segi grafis dibandingkan Intel, hehehe.

 

 

 

Buat aku saat ini, prosesor Athlon X2 dan AMD APU sudah sangat memuaskan untuk diajak membanting tulang. Toh, aplikasi yang aku pakai hanya web browser, FTP Client, dan notepad. Kadang-kadang ya pakai Office atau Photoshop, tapi toh kinerja komputer masih tetap nyaman. Sejujurnya, aku rasa mubazir juga clock speed 3 GHz tidak termanfaatkan dengan baik, hahaha.

 

Walaupun begitu, aku mendamba agar kiranya pihak AMD sudi merilis prosesor yang akan datang dengan pertimbangan sebagai berikut.

\n
    \n
  • Prosesor kompatibel dengan motherboard lawas, supaya tidak perlu beli motherboard baru untuk dipasangkan prosesor baru. Padahal kalau dipikir, yang bikin beda kan hanya jumlah kaki pin di prosesornya aja.
  • \n
  • Prosesor hemat daya. Kalau bisa 20 watt atau kurang gitu. Nggak apa-apa deh clock speed-nya cuma 2 GHz. Tau sendiri kan, di negeri tercinta ini tarif listrik PLN naik terus. Kalau lama-lama pakai prosesor 95 watt bisa bengkak itu tagihan listrik.  
  • \n
\n

Jadi ya gitu. Ini artikel bukan buat diikutsertakan ke lomba blog. Bukan pula juga buat memuja AMD bak calon presiden idola. Tapi hanya penghibur di tengah pikiran yang mengawang-awang saat sedang mencari inspirasi sambil ngendog di kamar mandi.

 

Sekian!