Diterbitkan:
Selasa, 20-Des-2011, 07:34 WIB

Dilihat:
1213 kali

Kualitas Iman dan Cinta Beda Agama

foto gambar pembuka artikel Kualitas Iman dan Cinta Beda Agama

Kalau menyinggung tentang iman seseorang, apalagi kualitasnya, itu semua amat-sangat tidak layak apabila manusia yang menilainya. Tentang kualitas iman itu hanya Gusti Allah SWT yang tahu sekaligus pantas menilainya. Sesuatu yang tidak dapat diganggu gugat.

 

 

 

Namun...

 

 

 

Kualitas keimanan seseorang dapat tercermin dari perilakunya. Bagaimana ia bersikap kepada Tuhan. Bagaimana ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Tidak sebatas bagaimana ia bersikap kepada sesama makhluk Tuhan.

 

 

 

Sebagai contoh dalam ruang lingkup diriku sebagai muslim. Bagaimana bisa menyatakan bahwa seseorang benar-benar beriman pada Gusti Allah SWT apabila shalat pun ia tidak pernah, masih senang bermabuk-mabukan, sekaligus berzina? Apa yang diperintahkan-Nya, ia abaikan. Sedangkan larangan-Nya ia bantah.

 

 

 

Mungkin kita semua pernah mendengar pembunuh yang di penghujung hayatnya bertaubat dan lantas dimasukkan ke dalam surga. Namun, apakah setiap dari kita memiliki kesempatan untuk bertaubat di penghujung hayat sebagai tiket instan masuk surga? Lagipula, apakah taubat itu hanya sekadar permintaan maaf kepada Tuhan yang terucap oleh lisan semata?

 

 

 

Sama seperti ketika kualitas bakti seorang anak terhadap orangtuanya. Apakah kita dapat menilai seorang anak itu benar-benar berbakti ketika sang anak masih memperlakukan orangtuanya dengan kasar? Menghardiknya dan kerap membuat mereka bersedih.

 

 

 

Jadi, apa hubungan kualitas keimanan seseorang dengan cinta beda agama?

 

 

 

Yang aku amati, tidak mungkin seseorang dapat menjalin cinta beda agama apabila ia sangat “dekat” dengan Tuhannya. Segala kemungkinan tetap ada. Barangkali orang itu masih bisa menjalin cinta, namun jauh di lubuk hatinya ia merasakan kegelisahan.

 

 

 

Sebab ia tidak dapat beribadah bersama pasangan karena keyakinan yang berbeda. Bagi kaum muslim, tentu lumrah bilamana ada keinginan untuk bisa shalat berjamaah bersama pasangan. Dalam konteks lain, merayakan hari raya bersama pasangan. Tentang berbagi kepuasaan spiritual.

 

 

 

Namun bilamana ada pasangan cinta beda agama yang tidak merasakan hal yang demikian. Aku ragu untuk mengatakan bahwa mereka “dekat” dengan Tuhan mereka.