Diterbitkan:
Senin, 28-Jul-2014, 12:32 WIB

Dilihat:
585 kali

Macet Gereja dan Macet Shalat

foto gambar pembuka artikel Macet Gereja dan Macet Shalat

Suatu hari, dia mengeluh kepada saya. Katanya, Jogja macet. Lantas saya bertanya, ruas jalan mana yang macet. Sebab sore hari itu saya juga hendak keluar. Biar tak ikut terjebak macet maksud saya.

 

Dia bilang, macetnya di kawasan Kotabaru, dekat gereja Santo Antonius. Jelas saja batin saya. Jadwalnya kebaktian gereja itu kan hari Sabtu sore dan Minggu pagi. Wajarlah bilamana di waktu-waktu itu jalanan sekitarnya jadi macet.

 

Keluhannya pun berlanjut. Dia gusar perkara kebaktian yang bikin macet jalanan. Dia bandingkan dengan ibadah shalat jum'at yang tidak bikin macet jalanan. Menurutnya yang lebih tertib jelas ibadah shalat jum'at.

 

Saya pun menyangkal pendapatnya. Tidak bisa seperti itu. Ibadah shalat jum'at umumnya hanya dihadiri oleh jamaah pria. Sebagian besar berjalan kaki dan naik motor. Di kota Jogja, masjid pun banyak terdapat di mana-mana.

 

Beda dengan umat kristiani. Ibadah kebaktian umumnya dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Oleh karenanya, kendaraan roda 4 yang dapat memuat banyak penumpang menjadi pilihan. Adapun jumlah gereja di kota Jogja jelas lebih sedikit dari jumlah masjid. Jadi wajar kalau terjadi kepadatan kendaraan di sekitar gereja pada jadwal kebaktian.

 

Lagipula, saat berlangsung shalat hari raya, umumnya banyak jalan yang ditutup dan banyak kendaraan yang diparkir. Bukankah itu juga menganggu bagi mereka yang tidak menjalankan ibadah shalat hari raya?

 

Saya cuma bisa menyarankannya untuk bersabar. Karena memang hanya itu yang bisa dilakukan. Daripada memaksakan satu kehendak, ujung-ujungnya malah memicu kebencian. Ah, bukankah benci itu rawan berkobar jadi konflik? Toh, ibadah-ibadah seperti ini tidak berlangsung tiap hari.

 

Anehnya, kali ini dia tak mengeluh tentang perjalanan mudiknya yang jelas masih diwarnai kemacetan. Mungkin kesabarannya hanya terbatas pada hal-hal tertentu saja. Ah, misalnya dia harus bersabar menahan panggilan ngendog di tengah kemacetan, kira-kira bagaimana ya?