Diterbitkan:
Rabu, 14-Jan-2015, 06:30 WIB

Dilihat:
679 kali

Mbah Gundul Bilang, Tenangno Pikirmu!

foto gambar pembuka artikel Mbah Gundul Bilang, Tenangno Pikirmu!

Di suatu kesempatan, aku beberapa kali menyesali rute yang dipilih Mbah Gundul. Tentu karena dia bisa melaluinya tanpa berkeringat. Sedangkan aku harus berkali-kali menuntun sepeda kalau nggak mau overdosis sendawa berkali-kali.

 

Tak jarang aku mengumpat dan mengeluh persis di hadapannya. Dulu di awal pertemuan, mulut ini masih terjaga sopan saat bertutur. Lambat laun, dengan perilakunya yang kerap membuat dengkulku kehilangan nalar, kata-kata yang teruntai tak lagi santun.

 

 

 

“Tenangno pikirmu!”

 

 

 

Itu yang dikatakan Mbah Gundul beberapa menit sebelum aku melemparkan sepeda ke rerumputan di pinggir jalan beraspal. Entah sudah sampai mana dia sekarang. Yang aku tahu di depanku hanya ada tanjakan yang sepertinya tembus sampai surga langit ketujuh.

 

Ada benarnya juga Mbah Gundul menyuruhku untuk tenang. Mau mengeluh berapa kali pun jalan ya tetap bakal menanjak. Tak pernah ada ceritanya jalan jadi turunan selepas mengeluh. Bahkan kisah mukjizat nabi-nabi pun tak ada yang seperti itu.

 

 

 

“Leren Mas?”

 

 

 

Aku hanya ber-haha-hehe sekenanya sambil menjawab “Inggih”. Ibu yang barusan lewat di jalan tanjakan itu memanggul keranjang di punggungnya. Selain arit, keranjangnya itu terisi penuh dengan rumput gajah. Ah, mungkin untuk pakan ternaknya.

 

Pikiranku pun terbang ke mana-mana. Mengapa Ibu itu sudi hidup di tempat seperti ini? Sedangkan anak muda lebih memilih menyingkir ke kota besar. Sungguh berat bila harus memanggul keranjang seperti itu tiap harinya di bawah terik matahari. Aku saja yang memanggul tas berisi kamera beratnya tidak ketulungan.

 

 

 

Yang seperti ini jadi membandingkan kondisiku dengan kondisi si Ibu barusan. Betapa beruntungnya aku yang masih lebih muda dari si Ibu merasakan hidup nyaman jauh dari pelosok desa seperti ini. Dan barusan aku mengeluh hanya karena jalan menanjak?

 

Ah, sepertinya pikiranku bisa makin liar bilamana aku semakin tenang. Mungkin sudah saatnya aku kembali mengusik pikiranku dengan mengayuh sepeda menyusul Mbah Gundul ke ujung tanjakan.

 

 

 

Jalan pulang masih sekian tanjakan lagi.