Diterbitkan:
Sabtu, 06-Jun-2015, 20:44 WIB

Dilihat:
328 kali

Menyiasati Anggaran dan Pelaksanaan

foto gambar pembuka artikel Menyiasati Anggaran dan Pelaksanaan

Nyari inspirasi sambil ngendog memang enaknya sambil baca koran. Di halaman pertama Kompas 6 Juni 2015 itu pandanganku tertaut pada kutipan berita kasusnya Pak Dahlan Iskan.

\n

“Di proyek ini, banyak pekerjaan yang belum dikerjakan, tetapi sudah dibayar dengan alasan untuk membeli material. Ini tak bisa dilakukan karena uang negara keluar dan tak ada hasilnya.”

\n

Sejurus kemudian, pikiranku mengawang-awang pada hal serupa yang aku ketahui. Beberapa tahun belakangan ini aku punya pengalaman ngerusuhi suatu institusi pendidikan negeri. Di sana, menyiasati anggaran adalah hal yang umum dilakukan.

\n

Eh, siasat yang aku maksud itu untuk kasus ketika pekerjaan belum dikerjakan tapi uangnya sudah dibayar. Kalau yang betul itu kan kerja dulu, selesai, dan baru dibayar. Iya toh? Tapi ada beberapa kasus ketika yang seperti itu tidak bisa dilakukan dan  pada akhirnya mesti disiasati.

\n

 

\n

Institusi pendidikan negeri itu kan dapat kucuran dana operasionalnya dari negara. Jadi, kalau duit negara belum turun, otomatis kan kinerja jadi terganggu. Ya toh? Gimana mau mengerjakan sesuatu kalau belum ada dananya?

\n

Cara agar suatu kegiatan bisa dapat dana operasional adalah dengan menyertakan anggaran kegiatan tersebut di tahun anggaran di mana kegiatan tersebut berlangsung. Tahun anggaran dimulai dari Januari hingga Desember di tahun yang sama.

\n

Misal, ada kegiatan Lomba Peringatan HUT RI ke-65. Itu dana operasionalnya dicantumkan di tahun anggaran 2010 pada bulan Agustus.  

\n

Umumnya, kucuran dana operasional untuk suatu tahun anggaran baru turun sekitar bulan Maret atau April. Ini yang jadi masalah. Ditambah lagi, yang namanya institusi pendidikan itu kan awal-akhirnya berdasarkan tahun ajaran. Di Indonesia, tahun ajaran dimulai September dan berakhir di Agustus di tahun depan. Ini kan nggak selaras dengan tahun anggaran yang dimulai dari Januari dan berakhir di Desember di tahun yang sama.

\n

 

\n

Misalnya, di bulan Januari itu selalu ada kegiatan Ujian Akhir Semester (UAS) Genap yang butuh dana operasional. Lha gimana mau jalan kalau dana operasionalnya belum cair?

\n

Makanya itu disiasati. Kegiatan UAS Genap dimasukkan ke tahun anggaran di tahun sebelumnya. Tapi kok boleh? UAS Genap kan digelar bulan Januari, sementara tahun anggaran dari Januari sampai Desember? Nah itu dia! Siasatnya itu, UAS Genap dijadwalkan digelar di bulan Desember. Yang penting, dananya ada dulu.

\n

 

\n

Alhasil, di perencanaan tahun anggaran, umum dijumpai kegiatan-kegiatan “fiktif”, biasanya sih menjelang akhir tahun. Sebetulnya ya bukan fiktif. Tetap digelar kok. Tapi bukan di tahun anggaran tersebut.

\n

Salah satu “korban” yang bakal berjatuhan kalau tidak menerapkan “siasat” di atas umumnya adalah para pegawai honorer. Di awal-awal tahun, bayaran mereka bakal tertunda karena dana operasional dari negara belum turun. Sedih kan melihat mereka terlunta-lunta karena telat digaji. Apa ya tega? 

\n

 

\n

Kalau mau diperkarakan, “siasat” ini ya tidak sesuai prosedur. Cuma negara yang bisa ngasih solusi dengan merevisi peraturan yang berlaku.

\n

Negara yang aneh toh? :p