Diterbitkan:
Senin, 22-Apr-2013, 07:31 WIB

Dilihat:
668 kali

Nilai UN itu Kebanggaan Sesaat

foto gambar pembuka artikel Nilai UN itu Kebanggaan Sesaat

Bapak dari kampung sebelah bilang, “Nilai UN itu nggak bikin orang masuk surga!”

 

Ujung-ujungnya adalah, “Kalau gitu, buat apa perlu ada UN!?”

 

Anak-anak yang mendengar bersorak dalam hati,I love you full Pak! Ujian emang bikin males! Enakan juga main!”

 

 

 

Sebut namanya Anton, seorang staff HRD di sebuah perusahaan yang salah satu tugasnya adalah menyeleksi calon karyawan baru.

 

“Nilai UN? Buat apa? So last year banget deh! Yang melamar di sini juga kan sudah punya gelar sarjana, bahkan ada yang master. Yang dilihat ya IPK-nya. Nanti juga ada wawancara kerja. Jadi, buat apa melihat nilai UN?”

 

 

 

Sebut namanya Sri, wanita paruh baya yang sehari-hari membuka warung makan dekat rumahnya. 

 

“Perempuan jaman sekarang itu jarang banget ada yang terampil di dapur. Seharian sekolah habis itu pulang ikut les. Boro-boro masak, jahe sama kencur aja nggak bisa bedain kok. Nyuci baju, nyuci piring, ngepel, pokoknya urusan rumah mana ada yang telaten? Wong belajar terus, pinternya ya nanti kalau sudah sukses jadi orang besar, bukan di dapur atau ngurus rumah.”    

 

 

 

Sebut namanya Budi, dia pelajar SMA. Besok dia UN.

 

“Pokoknya UN harus lulus! Masak mau ngulang!? Cuma sekali seumur hidup kok harus seperti ini sih!?”