Diterbitkan:
Senin, 02-Jan-2017, 01:04 WIB

Dilihat:
366 kali

NOIR #1 Suara

foto gambar pembuka artikel NOIR #1 Suara

Aku mendengar suara. Berulang-ulang. Dan juga terngiang-ngiang. Baik di kedua telingaku. Maupun di dalam sanubariku.

 

Aku mendengar suara. Dua suara dari sumber yang berbeda. Dua suara yang pelan-pelan mulai menganggu ketenanganku. Dua suara yang sudah terdengar semenjak rakaat pertama shalat Maghrib.

 

“Suara ini nggak bisa dibiarkan terus-terusan! Suara ini harus berhenti!”, aku membatin

 

Aku lantas mencoba berdialog dengan salah satu dari sumber suara itu. Tentu saja dengan dialog batin. Sebab, tak mungkin kan aku menyalahi rukun shalat?

 

###

 

Sumber suara pertama asalnya dari dalam hatiku. Yang hanya bisa terdengar olehku. Yang tidak diketahui oleh jamaah lain. Yang hanya bisa berdialog denganku di dalam batin.

 

Entah kenapa, suara dari dalam hati itu samar-samar terdengar mirip seperti suara seorang wanita yang aku kenal sejak bertahun-tahun yang lalu. Seseorang yang denganku tak pernah berbasa-basi. Seseorang yang senantiasa mengemukakan semuanya secara terang-terangan dan blak-blakan.

 

“Udahlah! Nggak usah dipikir panjang-panjang!”, ujar suara itu

 

Perkataan itulah yang sedari tadi, berulang kali, mengusik ketenanganku menunaikan shalat Maghrib. Awalnya aku mencoba untuk cuek. Toh ini hanya suara batin. Lagipula, ada ego dalam diriku yang seakan tak ingin menduplikat apa yang dahulu pernah menjadi kebiasaannya.

 

Akan tetapi, lambat laun aku tak bisa lagi cuek. Aku mulai berpikir. Aku mulai menerka. Pelan-pelan, pikiranku mulai tertimbun oleh kalimat-kalimat pesimis yang diawali dengan kata “tapi...”, “nanti...”, “ah...” dan lain sebagainya.

 

Kalimat-kalimat itu lama kelamaan mulai melahirkan keragu-raguan. Aku sendiri tahu, tidak ada orang yang paling lemah selain orang yang ragu-ragu. Dan di saat ini, mungkin aku memang orang yang lemah hingga shalat Maghrib pun tidak bisa fokus.

 

“Woy! Kenapa kamu jadi ragu-ragu?”, tanyanya dengan nada suara yang meninggi

 

“Kondisimu itu beda sama aku! Kamu punya fasilitas! Kamu punya uang! Kamu masih bebas! Kamu belum punya tanggungan!”, ia melanjutkan

 

“Tunggu apa lagi sih!? Jadi cowok kok ragu-ragu? Lembek kayak cewek!”, sepertinya ia mulai jengkel

 

Mendengar seruannya yang terakhir itu aku agak geli sendiri. Ia menyebut cewek itu lembek. Padahal dia sendiri juga cewek. Dalam pandanganku, mungkin memang dia lebih pantas menjadi cowok daripada menjadi cewek.

 

###

 

Aku mencoba membalas ucapan-ucapannya itu dengan berbagai sanggahan, “Tapi, aku nggak ada waktu! Uangku sedikit! Aku saja baru juga mau ngirit!”

 

Tapi, belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, dirinya sudah menyela lagi.

 

“Ah, alasan! Kamu itu kebanyakan alasan! Pantas saja hidupmu nggak maju-maju dari dulu! Kamu kebanyakan alasan! Kamu kebanyakan lari dari kenyataan! Kamu selalu menghindar dari resiko!”, serunya lantang

 

Kemudian dia berseru, “Ini urusan NYAWA!

 

Setelah itu dia terdiam beberapa saat. Dalam hening itu sebetulnya aku bisa lebih berkonsentrasi shalat. Akan tetapi, aku seakan menunggu ucapannya selanjutnya.

 

“Ini urusan nyawa.”, dia mengulangi ucapannya, “Bukan semata-mata urusan uang, waktu, atau tanggung-jawab. Semua bisa dicari jalan tengahnya kalau kamu siap dan berani menerima resiko.”

 

“Toh, ngapain juga kamu peduli dengan urusan uang? Orangtuamu kan sugih? Kamu hidup seorang diri di rumah besar kepunyaan orangtuamu yang fasilitasnya cukup buat kamu melakukan misi penyelamatan.”, dia menambahkan

 

###

 

Orangtua?

 

Pikiranku mendadak terpaku dengan satu kata tersebut.

 

Kenapa orang-orang selalu mengait-ngaitkan ketika aku mengeluh perihal uang dengan kekayaan yang dimiliki orangtuaku? Apakah buat mereka, kekayaan sebegitu pentingnya? Apakah buat mereka, aku yang memandang uang bukan sebagai tolak ukur utama bisa dianggap sebagai pecundang yang lemah dalam berkompetisi?

 

Aku kembali mengingat-ingat. Apa alasanku hidup menetap nyaman di Jogja? Kenapa aku menjauhi Jakarta? Kenapa aku tidak menjadikan uang sebagai tolak ukur utama?

 

Aku ingin merasakan hidup yang semata-mata bukan karena uang.

 

Dan ya, omongan wanita itu benar. Ini bukan masalah uang. Ini masalah nyawa. Nyawa yang sama sekali tak bisa dibeli di toko-toko maupun ditukar dengan uang.

 

###

 

Tak terasa aku sudah menoleh ke arah kiri seraya mengucap salam. Shalat Maghrib berjamaah usai. Demikian pula dengan suara dari dalam hatiku.

 

Tinggal tersisa satu sumber suara lagi. Dan suara itu sepertinya terdengar lebih nyaring.

 

Misi penyelamatan harus berjalan!