Diterbitkan:
Selasa, 12-Mar-2013, 18:42 WIB

Dilihat:
763 kali

Orang yang Protes: Ikon Indonesia: Islam vs Borobudur

foto gambar pembuka artikel Orang yang Protes: Ikon Indonesia: Islam vs Borobudur

Sepertinya, orang yang protes seperti judul artikel ini termasuk ke dalam golongan orang yang meneliti KTP pedagang sebelum memutuskan untuk membeli barang darinya. "Jika kamu Islam, maka aku beli daganganmu. Jika tidak, aku tidak akan beli."

 

Lantas, kalau Islam yang hendak ditonjolkan sebagai ikon Indonesia, ya... apa yang mau ditonjolkan? Mau menonjolkan masjid? Apakah ada masjid yang terbilang unik di Indonesia? Seperti contohnya masjid yang mencitrakan masjid berkarakter murni Indonesia, bukan masjid yang kearab-araban? Masjid-masjid unik yang ada saat ini hanyalah masjid yang unik karena imbuhan ter-, seperti terluas, terbesar, termegah.

 

Oh ya, jangan menaruh harap pada masjid tertua, sebab biasanya masjid-masjid tua yang menyimpan banyak catatan sejarah kondisinya mengenaskan. Jika tidak, ya digusur untuk dibangun masjid baru yang lebih unik karena imbuhan ter- itu tadi. Alasan klasiknya, "masjid tempat ibadah, bukan tempat belajar sejarah". Oke deh!

 

Selain itu? Citra Islam di Indonesia sendiri sudah tercoreng-moreng akibat ulah oknum-oknum yang mencemarkan citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Contohnya, tindak kekerasan dan kebobrokan moral. Aku kira kita semua paham.

 

Dan Borobudur? Apakah umat Buddha hendak mengambil alih Indonesia? Aku kira tidak. Apakah mereka mengambil keuntungan dari ini semua? Tidak juga. Lantas kenapa berisik agar ikon Indonesia harus Islam? Maaf, apakah tidak ada hal yang lebih penting? Misalnya pendidikan moral?