Diterbitkan:
Sabtu, 25-Ags-2012, 09:22 WIB

Dilihat:
1083 kali

Pengacara para Koruptor

foto gambar pembuka artikel Pengacara para Koruptor

Aku bingung, benar-benar bingung dengan negeri ini. Bingung setelah membaca pernyataan wakil menteri HAM, Pak Denny Indrayana yang "menyindir" para pengacara para koruptor.

 

Hmm, oke, istilah "pengacara para koruptor" itu memang sudah lama menggelitik sanubariku dan pada kesempatan kali ini aku ingin sedikit mengutarakan pendapatku tentang istilah tersebut. Tentu saja, inspirasi ketika menulis ini datang saat aku sedang ngendog.

 

 

 

Menurut Wikipedia pengacara itu:

 

Pengacara atau advokat atau kuasa hukum adalah kata benda, subyek. Dalam praktik dikenal juga dengan istilah Konsultan Hukum. Dapat berarti seseorang yang melakukan atau memberikan nasihat (advis) dan pembelaan “mewakili” bagi orang lain yang berhubungan (klien) dengan penyelesaian suatu kasus hukum.

 


 

Sedangkan Korupsi menurut Wikipedia:

 

Korupsi (bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok). Secara harfiah, korupsi adalah perilaku pejabat publik, baik politikus|politisi maupun pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

 

 

 

Hubungan antara seseorang dengan kasus korupsi aku bagi menjadi 4 golongan seperti ini:

\n
    \n
  1. Orang bukan tersangka korupsi dan tidak melakukan korupsi
    Ini sih orang baik-baik. Aku yakin pembaca dan sebagian besar rakyat negara ini termasuk ke dalam golongan ini.

  2. \n
  3. Orang bukan tersangka korupsi tapi melakukan korupsi
    Ini orang yang beruntung, sebab perilaku orang ini belum ketahuan aja. Entah belum ketahuan atau belum ada yang berani melaporkan. Tapi tetap saja, orang ini sudah melakukan tindakan yang salah, korupsi!

  4. \n
  5. Orang tersangka korupsi tapi tidak melakukan korupsi
    Ini orang yang nasibnya sial. Dia dituduh korupsi biasanya sebagai kambing hitam untuk menutup kasus korupsi yang dilakukan oleh orang lain. Orang semacam ini harus diselamatkan, sebab dari dirinya bisa dikuak siapa aktor korupsi yang sesungguhnya sekaligus jaringan korupsinya.

  6. \n
  7. Orang tersangka korupsi dan benar-benar melakukan korupsi
    Kalau orang semacam ini sih...cih...mending dihukum seberat-beratnya aja. Apalagi kalau sudah korupsi uang negara secara besar-besaran. Aku yakin, hampir sebagian besar rakyat negara kita menghendaki orang semacam ini dihukum berat! Yang nggak setuju juga ada, biasanya ya sesama pelaku koruptor, saling toleran lah gitu.
  8. \n
\n

 

 

Lalu di manakah peran pengacara dalam membela tersangka korupsi?

 

 

 

Untuk golongan 1 dan 2, karena status orang itu bukan tersangka, jadi belum masuk pengadilan. Jadi, peran pengacara bagi golongan 1 dan 2 belum dibutuhkan.

 

Menurutku, semestinya pengacara itu menolong golongan orang nomer 3 atas nasib sial yang menimpa dirinya. Lagipula dengan menolong orang semacam ini, bakal banyak kebaikan yang diperoleh sang pengacara. Mulai dari pahala dari Tuhan YME, ketenaran sebagai pengacara bersih, hingga menguak jaringan korupsi di negeri kita.

 

Sedangkan untuk golongan yang nomer 4, duh, buat apa sih orang salah dibela? Korupsi gitu lho! Mending kalau korupsinya cuma beberapa ratus ribu rupiah. Lha kalau sampai milyaran rupiah? Bikin negara rugi? Harus dibelakah?

 

Apa tersangka korupsi di golongan nomer 4 ini nggak sadar kalau dirinya korupsi ya? Sehari-hari hanya berkutat dengan menanda-tangani kertas. Eh, tahu-tahu ada sejumlah uang masuk ke rekening pribadi. Nggak beberapa lama kemudian disergap deh oleh KPK.

 

Pengacara untuk tersangka korupsi di golongan nomer 4 ini tugasnya ngapain ya? Apa berusaha meyakinkan hakim bahwa tersangkanya tidak melakukan perbuatan korupsi? Kalau misalnya hakim bertanya "uang di rekening asalnya dari mana?" mau dijawab dengan apa? Masak ya bilangnya "turun dari langit", "dikasih Tuhan", atau "dari orang baik". Ah paling-paling jawabannya standar, "saya tidak tahu" dan "saya lupa". Yang tersangka tahu, setiap mengambil uang di bank nggak pernah habis-habis gitu ya? Ckckck.

 

Mungkin juga tugas pengacara untuk tersangka korupsi di golongan nomer 4 ini adalah meringankan hukuman bagi sang tersangka. Duh, hukuman saja tawar-menawar. Bukankah hukuman itu sebagai efek jera? Juga contoh bagi masyarakat agar tak melakukan perbuatan serupa? Kalau hukuman bisa jadi ringan, maka penegakan hukum bisa melemah dong? Gimana sih?

 

 

 

Berhubung aku bukan orang hukum, jadi aku hanya bisa menerka-nerka saja.

 

Tapi semua itu sebenarnya kembali ke moral sang pengacara kok. Kepada siapa dia akan memberikan bantuan hukum. Kalau pengacaranya benar-benar baik dan benar-benar menganut paham untuk memberantas korupsi, dia pasti tidak akan terjerumus untuk membebaskan tersangka korupsi yang benar-benar melakukan korupsi dari perkaranya.

 

Hanya Tuhan, pengacara, dan tersangka yang tahu dan semoga pengacara dan tersangka masih beriman pada Tuhan, takut berbuat salah dan dosa. Amin.