Diterbitkan:
Kamis, 23-Ags-2012, 20:02 WIB

Dilihat:
847 kali

Pintar-pintarnya Kamu Memanfaatkan Bekal Ilmu

foto gambar pembuka artikel Pintar-pintarnya Kamu Memanfaatkan Bekal Ilmu

Hari ini, sekitar sore hari, saat aku sedang ngendog, tiba-tiba aku dapat "pencerahan"!

 

Hah? Kok bisa!?

 

Lha ya bisa dong! Apapun kan bisa terjadi saat merenung sambil ngendog (apa ngendog sambil merenung ya?). Lha wong tagline blog ini saja kan berbunyi "Inspirasi Sambil Ngendog" ya toh? :p

 

Inspirasinya adalah menyambung artikelku yang berjudul Buat Apa Sekolah Kalau Ujung-Ujungnya Pengangguran?

 

Aku teringat perkataan seseorang–entah siapa orang itu–yang berkata ilmu itu adalah bekal kehidupan. Sayangnya, pemaknaan kita tentang istilah "bekal" itu seringkali berhenti pada suatu kebijaksanaan yang harus ditelan utuh-utuh tanpa perlu ditelaah lebih lanjut lagi.

 

Kali ini, aku ingin mengulas tentang "bekal" itu dari sudut pandang yang berbeda sebagaimana "pencerahan" yang datang pada diriku saat aku sedang ngendog yakni membuang "bekal" yang tersimpan padat di dalam perut. (wooo... jorok!)

 

 

 

Oke, jadi sudut pandang yang ingin aku ulas pada artikel ini adalah sudut pandang kita memaknai bekal sebagai ... bekal.

 

Hah?

 

Oke, bayangkan pembaca di masa kecil...atau mungkin sebarang anak kecil dengan seragam SD-nya yang sedang menyantap bekal makan siang buatan Ibunda tercinta kala jam istirahat berlangsung. Ah, nostalgia...so sweeet!

 

Itu pemaknaan bekal yang aku maksud!

 

Lha, lantas apa hubungannya dengan ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari pendidikan?

 

 

 

Anggap apa yang ada di kotak bekal itu bukan nasi, roti, dan lauk-pauk lain, melainkan sekian banyak ilmu yang kita miliki. Dari mulai ilmu yang muncul di rapor semacam matematika, mencongak (dulu ada pelajaran mencongak), fisika, kimia, biologi, ekonomi, geografi, dll, hingga ilmu-ilmu sosial seperti ilmu negosiasi, ilmu bujuk-rayu, ilmu mengancam, dll. Semua itu termuat padat di kotak bekal kita untuk bekal mengarungi kejamnya hidup.

 

 

 

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kapankah kita "menyantap" bekal itu?

 

Sebab hidup terus dan terus berjalan maju, tak pernah memberi kita waktu barang sedikit untuk mengengok ke masa lampau dan merencanakan masa depan dalam kondisi waktu yang terhenti.

 

 

 

Ada orang yang "kurang percaya diri", dia ingin kotak bekalnya penuh-padat-berisi dengan sekian banyak ilmu. Apakah orang ini serakah bin tamak? Tidak! Orang ini hanya khawatir, bahwa dengan ilmu yang dia miliki sekarang dia nggak bisa mengarungi kejamnya hidup. Dia takut gagal, yang berakibat hidup tidak enak, dan berujung pada mati mengenaskan. Orang ini nggak pernah menyantap bekal ilmunya, dia belajaaar terus agar kotak bekalnya penuh-padat-berisi dengan berbagai macam ilmu.

 

Ada lagi orang yang "bingung". Orang ini bingung, kapan dia harus menyantap bekalnya. Sebab ya itu, hidup tak pernah memberi jeda barang sekian detik untuk mempersiapkan segalanya. Yang ada orang ini seringkali telat menyantap bekalnya. Ibaratnya bekalnya sudah basi dan berjamur, eh baru dimakan. Efeknya ya bikin perut sakit. Ya kurang lebih seperti itu hidup orang ini.

 

 

 

Lha terus jadi orang yang seperti apa dunk?

 

Ya jadi orang yang menyantap bekal ilmu itu pada kondisi dan situasi yang tepat.

 

Lha kondisi dan situasi yang tepat itu seperti apa?

 

Ya itu sepintar-pintarnya kamu memanfaatkan bekal ilmu! Yang seperti ini nggak diajarkan di universitas, di sekolah, atau seminar motivasi sekalipun. Paling-paling hanya ada sekumpulan orang yang berbaik hati menceritakan pengalaman mereka "Dulu agar aku begini, maka aku melakukan hal ini."

 

Tapi itu kan orang lain yang melakukan. Beda kondisinya ketika kamu yang mengalaminya sendiri. Karena itu kan ada orang yang disebut "unggul" dan ada juga orang yang disebut "tidak unggul". Kalau begini aku jadi teringat artikel yang pernah aku tulis Berjuang Melawan Bakat.

 

 

 

Jadi, apapun itu, semua bergantung kepada sepintar-pintarnya kita memanfaatkan ilmu dari kotak bekal yang kita miliki pada kondisi dan situasi yang tepat. Orang yang tidak tangkas "memanfaatkan" ilmu itu yang menurutku adalah mereka terjebak dalam kondisi "tidak bisa apa-apa", padahal sebenarnya ya bisa apa-apa.

 

Tenang saja, ilmu itu nggak seperti nasi, nggak bakal pernah habis kita santap. Yang ada ya kita merasa kurang punya ilmu. Bukankah hidup itu pembelajaran? Salah dan gagal itu biasa. Belajar itu setiap saat.