Diterbitkan:
Selasa, 07-Mar-2017, 11:46 WIB

Dilihat:
124 kali

Ranking Siswa dan Semua Hal yang Terurut Parsial

foto gambar pembuka artikel Ranking Siswa dan Semua Hal yang Terurut Parsial

Pada suatu kesempatan, si Orang Pertama menyatakan ketidaksetujuannya terhadap sistem ranking siswa sekolah.

 

Dia bilang bahwa sistem ranking membuat pendidikan menjadi tidak sehat.

 

Dia bilang bahwa sistem ranking akan membuat siswa tertekan karena mengejar peringkat.

 

Dia bilang bahwa sistem ranking tidak semata-mata bisa menentukan kecakapan akademis yang dikuasai siswa.

 

 

Kemudian, si Orang Kedua bertanya kepadanya,

 

“Apa sesungguhnya sistem ranking itu?”

 

Si Orang Pertama lalu menjawab pertanyaan si Orang Kedua tersebut dengan suatu pengertian,

 

“Sistem ranking adalah memetakan siswa ke dalam tingkatan-tingkatan tertentu sesuatu kecakapan akademis yang dikuasainya.”

 

 


 

 

Kemudian si Orang Pertama mencontohkan. Dalam suatu kelas yang terdiri dari 40 siswa, setiap siswa dapat diberi nomor sesuai peringkat akademisnya.

 

Ada siswa yang mendapat nomor 1.

Ada siswa yang mendapat nomor 2.

Ada siswa yang mendapat nomor 3.

... dan lain sebagainya ...

Hingga akhirnya ada siswa yang mendapat nomor 40.

 

 

Dia bilang bahwa siswa yang mendapatkan nomor 1 merupakan siswa dengan kecakapan akademis yang mengungguli siswa dengan nomor 2.

 

Selanjutnya, siswa yang mendapatkan nomor 2 merupakan siswa dengan kecakapan akademis yang mengungguli siswa dengan nomor 3.

 

Siswa yang mendapatkan nomor 3 merupakan siswa dengan kecakapan akademis yang mengungguli siswa dengan nomor 4.

 

Dan selanjutnya. Dan selanjutnya. Dan selanjutnya.

 

Hingga pada akhirnya tibalah pada siswa dengan nomor 40.

 

Sayangnya, hanya ada 40 siswa di kelas tersebut. Dengan demikian, siswa dengan nomor 40 itu tidak mengungguli siapapun lagi di kelas tersebut. Sebaliknya, siswa dengan nomor 1 sampai dengan siswa dengan nomor 39 mengungguli siswa dengan nomor 40.

 

 

Itulah yang dimaksud dengan sistem ranking.

 

Dan sekali lagi, si Orang Pertama berkata bahwa dirinya tidak setuju apabila sistem yang seperti ini diberlakukan pada siswa sekolah.

 

 


 

 

Orang Kedua kemudian bertanya kepada si Orang Pertama,

 

“Tidakkah kamu tahu bahwa sejak zaman lampau, manusia sudah mengadopsi sistem ranking?”

 

Dengan raut wajah yang kebingungan si Orang Pertama bertanya balik,

 

“Lho? Bagaimana bisa?”

 

Orang Kedua itu menceritakan apa yang ia pelajari dari pelajaran sejarah di sekolah,

 

“Ketika manusia purba mengenal sistem food gathering alias mengumpulkan makanan, di saat itulah manusia belajar untuk memisahkan, untuk memilah-milah, untuk membedakan, mana makanan yang berkualitas baik dan mana makanan yang berkualitas buruk. Tentu, makanan yang berkualitas baik akan disantap. Sementara makanan yang kualitasnya buruk akan disisihkan.”

 

Orang Kedua itu melanjutkan lagi omongannya,

 

“Ketika manusia sudah akrab dengan sistem bilangan seperti 1, 2, 3, 4, 5, dan sebagainya maka manusia mulai mengkaitkan kualitas dengan angka. Contohnya, makanan yang mulus, bersih, enak, lezat, diberi angka 1. Sementara makanan yang mulus, bersih, tapi sedikit kurang lezat diberi angka 2. Dan seterusnya.”

 

 

“Lalu apa maksudmu?”, tanya si Orang Pertama menyela

 

“Jadi maksudku, di zaman yang serba kompleks ini, adalah suatu hal yang lumrah apabila seseorang mengurut-urutkan suatu hal dengan bantuan angka. Semua hal di dunia ini mulai dianggap bisa untuk diurutkan secara parsial.”, ujar Orang Kedua

 

“Urut secara parsial itu apa?”, tanya si Orang Pertama kebingungan

 

“Gampangnya, dua hal yang sejenis bisa diperbandingkan. Yakni, dari dua hal tersebut selalu bisa dipilih mana yang lebih baik dan mana yang kurang baik. Atau mungkin keduanya sama-sama setara baiknya.”, jelas Orang Kedua

 

“Lantas, apa masalahnya?”, tanya Orang Pertama

 

“Masalahnya adalah, ketika kita menentukan suatu hal yang ini lebih baik dari hal yang itu akan muncul pertanyaan ‘seberapa baik?’ dan jawaban atas pertanyaan tersebut umumnya dijawab menggunakan bantuan angka.”, jelas Orang Kedua

 

 

“Jadi maksudmu, orang-orang harus membiasakan diri atau mengubah cara membanding-bandingkan sesuatu hal tanpa bantuan angka?”, tanya Orang Pertama

 

“Di dunia moderen ini sulit untuk melepaskan diri dari bantuan angka-angka. Bisa jadi pula, mungkin karena angka membuat semuanya menjadi jauh lebih mudah untuk menghadapi hal yang masif. Kembali pada kasus sistem ranking siswa yang kamu kemukakan, bagaimana caranya untuk memetakan kecakapan akademis sekian ratus siswa di suatu sekolah tanpa bantuan angka? Sulit sekali bukan?”, tanya si Orang Kedua

 

“Kalau begitu sistem peringkat dengan angka seperti itu dihapuskan saja!”, seru si Orang Pertama

 

“Ah, kalau urusannya tentang menghapus sistem yang sudah lama berjalan itu jelas bukan perkara mudah. Terlebih lagi, selama manusia masih memiliki sifat untuk membanding-bandingkan segala macam hal, sistem peringkat tidak akan pernah lenyap. Selama semua hal masih bisa dipandang sebagai sesuatu yang bisa diurutkan secara parsial.”