Diterbitkan:
Selasa, 20-Des-2016, 07:39 WIB

Dilihat:
1173 kali

Saat Kucingmu Makan Karet Gelang

foto gambar pembuka artikel Saat Kucingmu Makan Karet Gelang

Hari Sabtu di minggu pertama bulan Desember tahun 2016 adalah hari di mana hujan mengguyur Yogyakarta dari pagi hingga malam.

 

Sehingga dengan demikian, tatkala langit telah berhenti menangis, aku pun keluar mencari makan. Waktu menunjukkan pukul 8 malam lebih sedikit. Karena malas nyepeda jauh, ikan lele goreng dari warung penyetan di depan hotel eks pegadaian aku beli sebagai lauk.

 

Di ambang pintu rumah, aku disambut oleh paduan suara tiga makhluk berambut-berekor-berkumis yang kelaparan. Berhubung di malam hari itu aku sedang baik jadi aku layani dulu sajalah permintaan mereka. Sebetulnya sih karena aku nggak ingin ritual menyantap ikan lele goreng terganggu sama paduan suara mereka. :p

 

###

 

Tiga makhluk dari genus Felis dan spesies catus itu masing-masing bernama Pungut, Zoro, dan Kucil. Sehubungan dengan dompet yang masih tebal di minggu pertama bulan Desember, maka santapan ketiganya pada hari itu adalah dry food repack yang (konon) mengandung crude protein minimal 30%.

 

Seperti biasa, Kucil yang usianya kira-kira 6 bulan lebih sedikit mendapat jatah makan yang pertama. Disusul oleh Pungut, kemudian Zoro.

 

Kucil yang sudah terlebih dahulu menghabiskan biskuitnya mengeong minta nambah. Tak seberapa lama Zoro ikut mengeong. Disusul pula oleh si Pungut. Mungkin karena seharian ini hawanya dingin karena hujan jadi mereka lebih lapar dari biasanya. Eh, atau bisa jadi mereka pada dasarnya itu memang makhluk yang rakus? :p

 

 

Di tengah aksi minta nambah makan itu suasana menjadi kacau. Aku jongkok menghadapi tiga makhluk berkumis yang berusaha meraih plastik dry food di dalam genggaman tanganku.

 

Saat itulah ketika aku berniat menyudahi makan malam mereka, aku meraba lantai tempat di mana aku menaruh karet gelang pembungkus plastik dry food. Aku kaget karena karet gelangnya tidak ada!

 

Aku celingak-celinguk dan mendapati pemandangan yang mencengangkan.

 

Zoro sedang menguyah karet gelang!

 

Terus ditelan!

 

Aku pun teriak, “WOY! KAMU NGAPAIN!?”

 

Zoro kaget dan kabur meninggalkan aku yang kebingungan.

 

###

 

Dalam situasi yang aneh bin ajaib bin membingungkan ini aku berusaha menenangkan diri. Tapi, setenang-tenangnya aku, ilmu matematika dan komputer yang aku kuasai tidak mampu menjawab pertanyaan logis berikut:

 

Jika kucing makan karet gelang maka...

maka…

maka… ?

maka apa ya?

 

Duh!?

 

 

Alhasil, larilah aku ke solusi yang umum digunakan oleh penduduk Indonesia yang melek TI, yaitu:

 

Tanya ke Google.

 

Tapi lagi-lagi, Google tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Yang tampil di halaman pertama pencarian adalah video YouTube yang mempertontonkan adegan kucing makan karet gelang. Ora kalap!!!

 

Selain video ngawur aku menemukan saran unik di suatu forum perkucingan. Katanya si kucing diberi minum minyak goreng atau air garam supaya merangsang rasa mual dan lantas memuntahkan karet gelang.

 

Buatku ini juga ngawur! Mosok kucing dikasih minum minyak goreng!? Aku saja ogah minum minyak goreng! Dan lagi, si Zoro kan bukan Mbah Gundul yang hobinya minum air garam yang (konon) bikin kuat nyepeda nanjak. :p

 

###

 

Jadi apa boleh buat. Pada malam hari itu aku terpaksa meluncur darurat ke klinik hewan dan meninggalkan ikan lele goreng demi mencari tahu ramalan nasib Zoro yang memakan karet gelang.

 

Klinik hewan yang jadi sasaran adalah Klinik Kayu Manis di Jl. Gambiran dekat Kotagede. Meskipun lebih jauh dari RSH Dr. Soeparwi UGM, di sana kliniknya buka 24 jam termasuk di hari Sabtu dan Minggu.

 

Singkat cerita, tibalah aku di Klinik Kayu Manis dengan lambat disebabkan kondisi jalan raya pada malam minggu yang padat serta bertepatan dengan pekan Pasar Malam Sekaten. Di Klinik Kayu Manis, mbak-mbak perawat menanyakan kondisi si Zoro. Berhubung Zoro baru sekali ini ke Klinik Kayu Manis jadi mbaknya banyak bertanya untuk mengisi catatan rekam medis.

 

Saat ditanya-tanya itu aku mendadak teringat sesuatu dan buru-buru menghampiri salah satu mbak perawat yang sudah membawa Zoro ke ruang periksa,

 

“Mbak, gimana kucingnya?”

“Nanti ya Mas, itu dokternya masih di depan.”

“Oh iya. Eh, dia itu penakut mbak. Tadi basah (kencing) nggak?”

“Iya Mas ini tadi basah.”

 

Arrrgh! Dasar kucing penakut-kencingan-doyan karet gelang!!!

 

 

Kemudian mas dokter masuk ke ruang periksa. Membuka mulut si Zoro. Meraba-raba perut si Zoro. Sepertinya mas dokternya sedang mencari keberadaan karet gelang.

 

“Sudah lama Mas dia makan karet gelangnya?”, tanya mas dokter

“Sudah Dok! Dari rumah tadi buru-buru saya bawa ke sini.”

“Kalau baru tadi-tadi karet gelangnya masih di kerongkongan bisa ditarik.”

 

“Berapa karet gelang mas?”, tanyanya lagi

“Dua Dok...”, jawabku lesu

 

... suasana pun hening ...

 

 

“Kalau di-rontgen keliatan nggak ya?”, tanya mas dokter ke asisten perawat

“Ya mana kelihatan Dok”, jawab mas perawat

 

“Ya sudah, sementara ini diawasi saja fesesnya Mas.”, kata mas dokter ke aku

“Lha terus karet gelangnya gimana Dok?”

“Ya nanti biar keluar lewat feses.”

 

Beh! Ini yang tadi aku nggak kepikiran. Pikirku karet gelang di usus bisa habis tercerna oleh asam lambung. Ternyata keluar lewat feses alias telek toh? Ini aku sebagai anak matematika yang tiap hari ngoding nggak kepikiran sampai kasus ini.

 

 

“Lha nanti kalau karet gelangnya membelit usus gimana Dok?”, tanyaku sok biologis dengan membayangkan nasib terburuk

“Ya bisa juga, tapi gejalanya baru kelihatan sekitar 3 harian ke depan. Jadi selama ini fesesnya diawasi saja dulu. Nanti saya kasih obat juga untuk pencernaannya.”

 

Si Zoro pun kembali masuk ke dalam keranjang. Mas dokter masuk ke ruang obat. Mas perawat dan satu mbak perawat kembali ke resepsionis. Tinggal aku dan satu mbak perawat berduaan di ruang periksa.

 

Aku pun melayangkan pertanyaan ke si mbak perawat itu,

 

“Mbak, kasus kucing makan karet gelang kayak gini umum nggak sih?”

 

Si mbak perawat memberi jeda sebelum akhirnya menjawab,

 

“Sebelum Masnya ini, tadi kucingnya makan peniti lho.”

 

HAH!?

 

###

 

Segala puji untuk Allah SWT yang telah menciptakan makhluk bernama kucing dengan mulut yang sanggup untuk memakan apa yang disangkanya lezat.

 

Eh, termasuk juga tikus yang kelaparan dan menyantap ikan lele goreng di meja... :p