Diterbitkan:
Kamis, 04-Mei-2017, 10:32 WIB

Dilihat:
118 kali

Saya Pikir, Semua Istri Keinginannya Sama Mas

foto gambar pembuka artikel Saya Pikir, Semua Istri Keinginannya Sama Mas

Siang hari itu, di muka suatu rumah, seorang pria dan seorang wanita sedang bercengkrama.

Sang wanita duduk bersender di kursi di dekat pintu masuk.

Sementara sang pria duduk di lantai semen yang tak jauh dari amben.

 

 

Tangan sang pria menggenggam gelas belimbing yang berisi teh.

Matanya menatap lekat kepada sebatang daun teh yang mengapung di permukaan.

Sedangkan sang wanita diam memperhatikan ayam-ayam yang berkeliaran di halaman bertanah kering.

 

 

"Saya pikir, semua istri keinginannya sama Mas.", sang wanita memecah keheningan.

"Suami di rumah. Menafkahi istri. Terus, anak-anak bisa makan, sekolah, sehat. Ya, hal-hal yang umum seperti itu.", lanjutnya

 

 

Gelas yang semula penuh berisi teh kini tinggal separuh.

Sebatang daun teh yang semula mengapung kini melekat di dinding gelas.

 

 

"Memang, sudah berapa lama Mas X (nama suami si wanita) pergi Mbak?", tanya sang pria

"Januari kemarin.", jawab sang wanita singkat

"Sekitaran seminggu setelah ikut pengajian.", lanjutnya lagi

 

 

"Apa sebelumnya per..."

 

"Nggak! Nggak pernah. Selama ini Mas X selalu pulang ke rumah.", potong sang wanita

 

"Sebagai istri kan saya percaya sama suami saya tho Mas?", pandangan sang wanita beralih ke rumpun bambu yang bergemerisik pelan

 

 

Teh dalam gelas kini hanya setinggi kuku kelingking.

Posisinya pun berubah ke dalam nampan di atas amben.

Sebelum sang pria mengucap salam perpisahan, sang wanita berkata lagi.

 

"Saya cuma ingin dia pulang. Anak-anak kangen sama bapaknya."

 

 

Andai angin bisa mengantar obrolan itu kepada ia yang kini terpisah jauh.

Akankah kembali masa di mana obrolan segelas teh bersemi dengan tawa?

Antara para manusia.