Diterbitkan:
Minggu, 11-Mar-2012, 18:47 WIB

Dilihat:
723 kali

Tergantung. Untuk Apa?

foto gambar pembuka artikel Tergantung. Untuk Apa?

Sebilah keris itu dihadapkannya kepadaku. Mpu–begitu ia disebut–tersenyum saat melihatku kebingungan.

 

“Banyak orang bisa membuat yang seperti ini”

 

“Ini” adalah “keris”. “Keris” itu bukan keris. “Keris” hanya benda yang berwujud seperti keris. Bilahnya, sama-sama terbuat dari besi dengan gagang terbuat dari kayu.

 

“Kalau hanya berakhir sebagai aksesoris, disematkan di belakang beskap, yang seperti ini sudah cukup”

 

Keris yang dipegang Mpu memang sudah kusam. Karatan. Yang seperti ini pasti karena tak pernah dirawat. Mungkin juga ditempa ala kadarnya dengan besi yang ala kadarnya pula.

 

“Kalau yang seperti ini dipakai untuk senjata...hehehehe...”

 

Mpu terkikik dan kemudian menghempaskan keris itu ke lantai. Seketika pecahlah keris itu menjadi dua bagian.

 

“Ingat! Senjata itu selalu dipakai untuk mempertahankan diri. Tak boleh untuk menyerang! Hanya ketika nyawamu terancam baru boleh dipakai untuk menyerang. Tapi jangan membunuh! Karena sebaik-baik kemenangan, adalah membiarkan lawanmu tetap hidup!”

 

Raut wajah Mpu menjadi serius.

 

“Kalau dipakai untuk mempertahankan diri...tidak bisa”

 

Mpu menatap keris yang tergolek di lantai.

 

“Harus ada cara-cara khusus agar besi lancip ini bisa disebut sebagai keris”

 

Aku tahu cara-cara khusus yang dimaksudkan oleh Mpu. Serangkaian proses yang melibatkan ritual-ritual magis yang jauh dari ranah ilmiah.

 

Baru aku hendak angkat bicara, namun Mpu sudah mendahuluiku.

 

“Saya tahu yang kamu pikirkan. Bahwa yang baru aku bicarakan bagimu tidak masuk akal. Bahkan mungkin kamu anggap itu sebagai syirik. Sesuatu yang menyekutukan Tuhan.”

 

“Kamu perlu tahu. Bahwasanya bila kamu mencoba mempertahankan diri dengan dengan besi runcing yang tak layak disebut keris itu, kamu akan berakhir naas seperti benda remuk yang bisa kamu lihat di lantai itu.”

 

“Jangan pernah bertindak bodoh. Kalau kamu percaya akan perlindungan-Nya, bukan berarti kamu bisa mempertahankan diri tanpa benda yang kamu jadikan sebagai pelindung. Sama seperti kamu menerobos kepungan anak panah yang melesat dari busur musuh, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhmu, dan kamu berharap untuk selamat.”

 

Mpu tersenyum dan menatap kepadaku.

 

“Inilah kami, orang Jawa, yang lekat dengan hal-hal tak masuk akal seperti ini.”

 

“Hatimu. Hanya dengan hatimu kamu bisa membedakan dirimu dengan kerumunan orang yang kau anggap musyrik untuk hal-hal tak masuk akal seperti ini.”